Posts

Dèjá Vu (2)

Aku pernah merasa seperti  deja vu , nyatanya perjalanan setahun setelah perasaan itu tidak sama dengan perjalanan setahun dari fenomena yang pertama. Ada yang berubah. Ada yang berbeda. Tentu saja, orangnya berbeda, masanya berbeda, pengetahuan -nya juga berbeda. Tuan Hitam, terima kasih atas satu tahunnya yang luar biasa. Aku masih berusaha agar tidak terus-terusan merasa sedih jika mendengar namamu dan melihat wajahmu. Kali ini, aku merasakannya kembali, tetapi untuk perkara yang berbeda. Bukan soal asmara, melainkan kondisi diri. Setelah jatuh-bangun dalam hampir dua tahun terakhir, saat ini aku berada dalam keadaan yang cukup baik, kurasa. Akan tetapi, dalam keadaan ini, aku justru tidak benar-benar baik-baik saja karena aku melakukan ketidakwajaran--sebagaimana yang pernah aku lakukan dulu ketika kondisiku masih baik-baik saja. Aku merasa seperti mengulang. Aku merasa bahwa dengan ini, kondisiku akan turun lagi, tetapi aku tidak yakin bahwa ceritanya akan sama. Pasti aka...

2019

Tinggal kurang dari 2 bulan lagi, tahun 2019 akan berakhir. Kalau ditanya satu frasa yang bisa mewakilkan satu tahun ini, jawabanku: rumah sakit . Sejak bulan Februari, aku bolak-balik ke rumah sakit. Aku masih ingat betul bagaimana perasaanku setelah keluar dari rumah sakit untuk pertama kalinya. Hancur, sedih, dan rasanya putus asa. Aku menangis di sepanjang jalan pulang dari rumah sakit ke kampus. Hampir seminggu kemudian, aku merasakan efek samping obat yang membuatku akhirnya masuk rumah sakit lagi. Kali itu, aku harus rawat inap di rumah sakit sekitar 3 malam. Setelah itu, aku melakukan kontrol sebanyak 3 kali, hingga aku menyerah dengan dokter yang terakhir. Beberapa bulan setelahnya, aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit karena kondisiku menurun lagi. Sementara itu, aku harus bisa beraktivitas secara normal karena pelaksanaan KKN. Aku ke rumah sakit sekali sebelum KKN. Ketika KKN, aku pergi ke rumah sakit 2 kali. Pulang dari KKN, aku ke rumah sakit 4 kali untuk kontrol...

Ada

Ada banyak yang berubah Tidak semua ditulis dan diucapkan Tertinggal, tanpa makna Berakhir tanpa kata Banyak yang berubah namun tidak ada yang kusadari Namaku hilang tak tersisa Seiring waktu yang menuju berhenti Tidak ada yang perlu diartikan

Celoteh

Saat ini, aku sedang berada dalam masalah. Sebetulnya masalahnya mungkin sepele, tetapi masalah itu menjalar ke mana-mana sehingga aku bingung bagaimana menyelesaikannya. Tidak ada yang mengejarku kecuali asumsiku sendiri tentang waktu. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali aku menghadapi diriku sendiri, berbincang, dan merumuskan penyelesaiannya bersama. Masukan dari luar sudah terlalu banyak memenuhi kepalaku. Kini, aku benar-benar harus menghadapi diriku sendiri. Mau sampai kapan? Aku tidak tahu, aku tidak bisa apa-apa, biarlah Semesta bekerja demikian adanya. Tapi, diriku adalah orang yang sangat sulit. Sulit memutuskan, sulit untuk jujur dan apa adanya. Apakah aku hidup di dalam kepalsuan? - Menurutmu? Kita berdua hidup dalam satu tubuh yang sama. Kita berperan ganda, kadang aku dan kadang dirimu. Kita berpikir di kepala yang sama, bertindak dengan tangan dan kaki yang sama. Tak ada aku dan kau, kita bersama. Hidup dalam peran ganda, sesungguhnya , melelahkan. Tapi mau...

2908

Aku masih hidup.

Kabur

Ada sesuatu yang baru. Aku mengetik tanpa bisa betul-betul membaca kata-kata yang kutuliskan. Terkadang mataku mampu mengatur fokus, tetapi pada sebagian besar waktu, aku tidak dapat melihat dengan jelas. Penglihatan ini mengabur tanpa peduli jarak antara mataku dengan tulisanku. Semula aku berpikir bahwa ini adalah efek samping obat, tetapi kemarin dan hari ini penglihatan ini mengabur tak kenal waktu. Maksudku, bukan hanya setelah aku mengonsumsi obat. Silinder? Aku tidak tahu juga. Yang jadi masalah, mataku yang terhambat, mengapa pikiranku ikut terhambat? Seharusnya aku tetap bisa berpikir dengan lancar, terutama memikirkan solusi dari "permainan" menarik yang telah diberikan oleh seorang role model -ku. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika telinga tak bisa mendengar dengan baik. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika mata tak bisa melihat dengan baik. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika otak tak bisa berpikir dengan baik.

Sebelas (Percakapan)

"Mau minum apa?" Tanya pria itu. "Teh hangat manis," jawab perempuan itu. "Tumben, kamu tidak pesan kopi." "Selama beberapa minggu terakhir, aku selalu minum teh manis hangat setiap hari." "Wauw... kamu akan diabetes." "Tidak juga, ah." "Kemana saja kamu?" "Di sekitar sini saja, kok. Besok aku baru akan pergi." "Ke?" "Ke rutinitas yang biasanya." "Huh, kukira kamu mau pergi lagi." "Tebak! Aku punya ide bagus." "Apa itu?" "Bunuh diri pada hari ulang tahun." "Jangan." "Jangan tidak?" "Jangan lakukan. Kamu tidak akan melakukannya. Aku yakin itu." "Yah, memang kecil sekali sih kemungkinannya." "Tolong bilang peluangnya nol persen." "Tidak mau." "Kamu terlalu pengecut untuk melakukan itu." "Terima kasih atas semangatnya." "Ak...

Mengingat

Malam itu, ia bereksperimen lagi. Hanya satu jenis obat yang ia minum. Ia ingin tahu apakah dirinya sanggup berkegiatan dengan sokongan satu jenis obat, antipsikotik, tidak dengan penawarnya. Ia juga telah menurunkan dosis obat itu menjadi 0,5 mg. Bukan dosis yang dianjurkan oleh dokter, tetapi dokter telah mengizinkannya. Sampai saat ini, belum ada efek samping yang begitu berarti. Malam itu juga, ia keluar rumah dan mengikuti keramaian. Saat ia berjalan melewati sawah, disaksikannya kunang-kunang yang begitu banyak jumlahnya. Kunang-kunang itu mengingatkannya pada masa kecil yang pernah ia lewati. Terakhir kali ia melihat kunang-kunang sebanyak itu adalah ketika ia berjalan-jalan di lapangan golf. Mungkin sekitar 10 tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu, usianya masih setengah dari usia dirinya saat ini. Sepuluh tahun yang lalu, ia masih tinggal di kota kecil nun jauh di sana. Ia masih bercita-cita menjadi pribadi yang baik. Ia masih punya cita-cita. Ia tidak takut. Baru seje...

Ruangan Itu

Rini melangkahkan kakinya satu demi satu. Suara langkah kaki Rini memecah keheningan dan menuju sebuah ruangan. Ketika tepat berada di depan pintu ruangan yang ditujunya, Rini terdiam sebentar. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengapa kembali ke sini? Belum selesai pertanyaannya, batin Rini telah menjawabnya: karena aku rindu. Rini tidak mau menahan lebih lama lagi. Ia langsung membuka pintu ruangan itu. Ruangan itu gelap dan tak terlihat apa-apa. Debu-debu beterbangan ke luar, menyapu wajah Rini yang terhenyak di depan ruangan. Ruangan itu terasa asing. Rini ragu tentang apa yang ada di dalam ruangan itu. Bukankah dulu ruangan itu ramai? Setidaknya, pernah ada dua-tiga orang di dalamnya. Rini ingat betul bagaimana Warni, Kaku, dan Mirat berbincang satu sama lain. Kini, ruangan itu kosong. Kemana lagi aku harus pergi? Rini memasuki ruangan itu; tangannya menyisir dinding supaya tidak terjebak di dalam kegelapan. Dinding ruangan itu penuh debu, seolah sudah lama tidak di...

04:40

Tidur sebelum yang lain tidur, Bangun sebelum yang lain bangun Adalah aku dan pikiranku Adalah aku dan ingatanku Dingin pagi hari menembus aku Yang berlindung di balik selimut Getir ingatan merasuki diriku Yang perasaannya kini carut-marut Aku hanya rindu memuisi