Posts

Chamber Angkasa

Bawah Tanah merupakan gua dengan dua entrance , masing-masing terletak di utara dan di selatan. Di dalamnya, ada lorong-lorong yang dapat membawa penjelajahnya menuju chamber-chamber dengan berbagai ukuran dan bentuk ornamen. Ada salah satu chamber yang selama ini kurang diperhatikan oleh Warni sebab ia memang jarang membawa sumber cahaya yang lebih terang untuk mengamati lingkungan sekitar. Belakangan ini, ia kerap membawa seperangkat alat fotografi dan sumber cahaya yang lebih terang untuk memperoleh gambar-gambar yang menarik buatnya. Ia memang berhasil mendapatkan gambar-gambar yang eksotis menurut dirinya, khususnya pada salah satu chamber yang ia namai sebagai Chamber Angkasa. Sebelumnya, ia tidak pernah betul-betul mengeksplorasi dan berdiam diri di sana untuk waktu yang cukup lama. Ketika ia mulai harus melakukan beberapa aktivitas di Bawah Tanah, ia mulai menemukan keindahan dari ornamen dan biota gua khususnya di Chamber Angkasa. Keindahan itulah yang akhirnya membuat Warn...

Tuan

Segala yang candu itu tak baik, Katamu Aku tahu itu Tapi kamu memang sudah menjadi canduku Kupikir hanya aku kepadamu yang jatuh sedemikian dalam Tidak dirimu      yang berusaha menarikku bangkit Tidak dirimu      yang terus melangkah maju dengan tegas Tidak dirimu      yang berdiri tegap di depanku Lagi-lagi, obsesi pada kesempurnaan Menggerogotiku dari dalam

Bunuh Diri dalam 4 Kisah

/1/ Aku pernah membesuk salah seorang teman yang dirawat di rumah sakit setelah melakukan bunuh diri, tetapi gagal. Ia sudah menenggak racun serangga di dalam kamar kos dan sempat tak sadarkan diri. Katanya, selama tak sadarkan diri, ia bermimpi berada pada suatu tempat dan ia sedang berlari, mengejar sesuatu. Ia berlari menuju pada suatu arah yang benar-benar ingin dicapainya. Namun, meskipun ia sudah berupaya keras, lantai yang dipijaknya seolah-olah bergerak melawan arah, membuat dirinya tidak sampai-sampai ke tujuannya. Akhirnya, ia gagal menuju ke tempat yang dikejarnya, kemudian tersadar bahwa dirinya masih hidup. Ia merasakan sakit yang sangat luar biasa, sampai akhirnya salah seorang temannya menghubungi dirinya, menjemputnya, lalu membawanya ke rumah sakit. Dia bercerita bahwa masalahnya (yang merupakan masalah hubungan eksternal dengan orang lain) telah selesai meskipun bunuh dirinya gagal. Meskipun demikian, ia menganggap bahwa jika waktu itu bunuh dirinya berhasil, mas...

Life is Not A Race

Life is not a race. Sebelum benar-benar mendapat surel yang berisi kalimat tersebut, sebetulnya aku sudah membacanya di dinding ruangan beliau. Aku membaca tulisan itu ketika kami sedang berdiskusi. Setelah keluar dari ruangan beliau, aku mengambil buku catatanku. Buku itu baru dan halaman pertamanya masih kosong. Aku merenung sejenak, menulis beberapa paragraf, lalu mengakhiri halaman pertama dengan kalimat tersebut: life is not a race . Selama ini aku memang menganggap bahwa sebisa mungkin aku harus selalu melakukan yang terbaik. Pekerjaanku harus baik dan aku harus bisa menyelesaikannya dengan cepat. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang bekerja keras dan tangguh. Beberapa kalimat yang menjadi penghias meja dan buku-bukuku ketika SMA antara lain: Keep Calm, Stay Strong, Work Hard, Think Sufficiently . Kalimat pertama memotivasiku untuk tetap bersikap tenang dan tidak perlu menyombongkan diri dengan kata-kata. Kalimat kedua memotivasiku untuk tetap kuat terhadap berbagai ma...

Rumah Sakit (2)

PERHATIAN DILARANG MEREKAM DALAM BENTUK GAMBAR / VIDEO TANPA SEIZIN MANAJEMEN Peraturan itu tertulis begitu jelas dan tertempel di sepanjang lorong dan setiap ruangan. Untuk memastikan setiap orang dapat membacanya dengan jelas, tulisan itu dicetak dalam warna putih dengan latar belakang merah. Di sampingnya, terdapat gambar berbentuk rambu, seperti rambu dilarang parkir tetapi di dalamnya bukan tertulis huruf "P" melainkan gambar kamera. Yang penting bukan larangan merekam dalam bentuk tulisan atau ilustrasi, batin Rini. Sudah satu jam lebih delapan menit Rini menunggu namanya disebut. Ia sempat menunggu selama sekitar 40 menit di dalam, 20 menit di luar, dan sekarang ia kembali ke dalam lagi. Akhirnya ia kembali ke tempat ini juga--setelah satu minggu menunda dan enam hari bereksperimen dengan dirinya sendiri. Tempat ini masih dijaga oleh penjaga yang sama. Hanya saja, hari ini orang-orang tidak seperti sebelumnya. Sebelumnya, Rini menemui beberapa orang yang tamp...

Ingatan Muntah

Rini berlari ke kamar mandi setelah lambung dan kerongkongannya bersekongkol untuk menimbulkan perasaan mual. Bilik kamar mandi di kamar maupun di sekolahnya telah menjadi saksi bisu berbagai aktivitas Rini, salah satunya muntah . Dalam setiap muntahan, Rini mengingat masa-masa kecilnya yang tak jauh dari klinik, demam, dan ember untuk muntah. Penyakit yang dialaminya semasa kecil "hanyalah" kecapekan . Aktivitas fisik yang terlalu berat membebani dirinya lantaran katup jantungnya tidak sempurna. Kali ini, Rini bergulat dengan penyakit yang berbeda. Penyakit itu tidak menyerang secara langsung; ia mengendap-endap dari balik kegelapan. Penyakit itu menimbulkan candu bagi Rini. Penyakit itu memberi nikmat sekaligus pedih yang membunuhnya pelan-pelan, tetapi juga membawanya pada pelajaran-pelajaran baru setiap hari. Penyakit itu bernama depresi. Jika di masa kecil Rini selalu didampingi orang tuanya ketika sakit, kali ini ia tidak bisa betul-betul mengharapkan siapa-siapa. Or...

Lewat Tengah Malam

Apakah aku panik karena sesuatu yang tiba-tiba muncul di belakang kepalaku? Kalimat yang sama keluar lagi dari mulut yang berbeda dalam hari, bahkan tahun yang berbeda Dèjá Vu untuk kedua kali Kemanakah aku akan bermuara? Aku ingin kamu segera ada di sini Kembali Meski hanya berlabuh Karena kita takkan tahu Puisi pengantar tidurku Kudengar tanpa kulantunkan Skenario ini sungguh tidak aku pahami.

240-022

Jika setiap detail kejadian yang kita alami dalam kehidupan ini dicatat dalam lembaran kertas, berapa banyakkah halaman yang sudah kita lewati? Apa saja cerita yang sudah kita lalui? Siapa saja yang pernah kita temui? Bagaimana kita melewati apa yang sudah kita lewati? Kemanakah cerita ini akan berlanjut? Sejak kapan dan sampai kapankah lembaran ini ditulisi? Apa bedanya kertas ini memiliki ujung awal dan akhir yang tidak kita ketahui dengan memiliki keterhubungan dengan kertas-kertas lain dan rupanya membentuk kalang tak berujung? Mengapa aku bertemu denganmu di waktu itu dalam keadaan itu? Lelah, rasanya. Ingin segera bermain saja. Timbul tanya dalam benak, Rasa ingin tahu dan bereksperimen dengan tubuh sendiri. Tubuh siapa? Lalu bait lagu yang berulang, mengalun di telingaku: Tenggelam ke dalam lamunan sebuah perjalanan Melayang pada ingatan yang muncul silih berganti, secepat pulsa listrik antarsinapsis. Lelah dan mengantuk, ingin segera tidur.

Membuka Catatan Lama

13 Februari 2019 Warni memilih mengambil tempat duduk untuk dirinya sendiri. Ia menghadap ke tembok agar tidak perlu bertemu mata dengan siapapun. Di hadapannya ada sebuah kaleng kerupuk yang memantulkan cahaya di belakangnya. Ia bisa memantau keadaan di belakangnya dari situ. Sebetulnya, di dekatnya terdapat beberapa orang teman yang sudah selesai makan. Mereka tengah mengobrol dan di situ jelas ada bangku yang bisa didudukinya. Masih ada ruang untuk Warni, tetapi ia memilih untuk menyendiri. Baik, baik. Lawan ia dengan tulisan. Bukan, bukan lawan. Keluarkan. Keluarkan. Keluarkan. Air mata yang kutahan, keluarkan jadi kata-kata. Meskipun aku tahu intensitasmu? Mereka tidak menerima dia. Aku sedih. Dia orang baik. Mereka juga baik. Aku tidak membalas tanteku karena aku tidak bisa menjanjikan apapun sementara aku merasa bersalah karena tidak bisa menemaninya. Aku membayangkan diriku akan menepis mangkuk soto di hadapanku sampai ia jatuh dan pecah. Lalu semua orang akan menoleh ...

Bawah Tanah

Rasanya kurang adil kalau hanya menceritakan kisah-kisah yang menyayat hati. Selagi neurotransmitterku sedang seimbang, aku ingin menceritakan beberapa hal. Ada banyak perubahan yang terjadi belakangan ini. Perubahan yang kulakukan--dan kurasa cukup signifikan--adalah lebih banyak menghabiskan waktu di tempat yang berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya aku sangat banyak menghabiskan waktu di Pohon, maka sekarang aku lebih sering berada di Bawah Tanah. Aku telah mengenali seluruh orang di Pohon sebisaku. Memahami lika-liku yang terjadi di Pohon. Orang-orang yang datang dan pergi, singgah dan beranjak, tinggal dan meninggalkan Pohon jumlahnya tidak sedikit. Siklus itu cukup membuatku semakin terlatih dalam mengelola perasaan ketika mengalami pertemuan dan perpisahan. Aku sudah cukup banyak bercerita tentang orang-orang di Pohon, dan saat ini aku ingin cerita tentang dunia Bawah Tanah. Sebetulnya, aku lebih dulu mengenal dunia Bawah Tanah dibandingkan Pohon. Akan tetapi, buah-bua...