Posts

Eksperimen

Aku menikmati sensasi dingin yang mengalir dari ujung kaki dan ujung jemari tanganku pada pagi ini. Kudengar suara serangga berbunyi, berulang-ulang, dengan ketukan yang selalu konstan. Langit membiru; tetangga depan rumah mematikan lampu halaman. Suara ngaji masjid tak kunjung usai, menggema menutupi sayup-sayup suara masjid lainnya. Denging di telinga kiri masih tak kunjung hilang. Pilihan macam apa yang kuambil lagi kali ini? Namun sebetulnya, aku tidak peduli lagi. Yang terjadi biarlah terjadi. Semoga hatiku bisa mengerti. Ada yang datang dan menengok. Ada yang bersiul lalu batuk. Ada yang memperbaiki pakaian. Sebetulnya indera kita sangat luar biasa untuk mengidentifikasi sesuatu. Lagi-lagi, aku memilih untuk menepi sendirian. Bepergian untuk keramaian lalu bersembunyi. Beberapa jam yang lalu, dorongan itu kembali datang. Aku sempat terhanyut, tetapi kemudian akalku cukup kuat untuk ingin mengobservasi diriku dengan lebih baik lagi. Kupikir, itu bisa menjadi peganganku. A...

Nihil

Cinta adalah harapan terakhirku setelah karya dan tanya sudah tidak lagi menggairahkanku. Bagaimanapun juga, masih ada sisi di dalam diriku yang ingin tetap berasa untuk hari esok yang lebih baik. Meski demikian, memang benar bahwa karya, tanya, dan cinta (secara berurutan) adalah driver yang kian meluruh seiring hari berganti. Dengan meluruhnya ketiga aspek tersebut, yang tersisa adalah cinta kepada beberapa hal yang juga sudah mengalami peluruhan. Namun, tampaknya cinta juga kian hari kian habis. Aku mencintai beberapa orang dengan cara yang mungkin memang salah, karena aku egois. Diriku sendiri adalah pusat perhatianku dalam rentang waktu belakangan ini. Mungkin aku kesepian dan ingin orang-orang yang kucintai ada menemaniku secara langsung. Memahami dan mengerti perasaan yang kualami. Namun, apalah artinya itu? Bagiku, sejatinya cinta yang baik adalah memberi tanpa mengharap balik. Sedangkan aku memulai dengan mengharap. Pengharapan adalah sesuatu yang berujung pada kekecewaa...

Belajar 'Belajar Filsafat'

Kali ini, saya ingin membahas tentang sebuah ilmu yang selama ini dianggap tabu di dalam lingkungan keluarga saya: filsafat . Dari kecil, saya sering diceritakan oleh Ibu bahwa filsafat merupakan ilmu yang aneh. Pada saat kuliah, ibu mendapat mata kuliah filsafat yang sampai saat ini beliau ingat, beliau ceritakan berulang-ulang, sehingga saya juga jadi ingat. "Ini meja. Mengapa ini meja? Apa yang menjadikan meja adalah meja? Kakinya? Bagian atasnya? Kayunya? Mengapa itu juga meja? Mengapa yang itu bukan meja?" Demikianlah pembahasan dosen filsafat Ibu. Saya yang masih kecil, menanyakan pada Ibu, apa maksud dari pertanyaan-pertanyaan dosen tersebut dan kemana arahnya. Ibu bilang, psikologi kan belajar tentang manusia. Hal yang selanjutnya dibahas adalah, apa yang menjadikan manusia adalah manusia? Bagi Ibu, filsafat adalah suatu ilmu yang tidak jelas sebab Ibu suka pada hal-hal praktis. Selain itu, orang filsafat katanya 'aneh'. Coba, buat apa mempertanyakan hal-...

Terima Kasih

Melalui tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada sejumlah orang yang telah banyak mempengaruhi hidup saya sehingga menjadi seperti saat ini. Saya tahu bahwa sebetulnya hidup ini bukan hanya dipengaruhi sebagian orang melainkan akumulasi seluruh rangkaian kejadian yang melibatkan interaksi dengan banyak orang, tetapi setidaknya ada orang-orang yang memiliki intensitas lebih tinggi dalam hal berdiskusi dengan saya soal pencarian ini. Saya ingin berterima kasih kepada keluarga dan lingkungan yang mengajari saya soal Islam sedari kecil, mulai dari memahami Alquran, hadits, dan bagaimana kita menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih telah mengajarkan makna ketenangan dan keterkekangan, ketulusan dan kebohongan. Absurditas adalah hal yang adanya bisa menjadi, menimbulkan konsekuensi yang terkadang di luar prediksi. Percayalah bahwa statistika itu memang terjadi. Saya ingin berterima kasih kepada kamu yang pertama kali mengenalkan kepada saya bahwa agama itu bukan...

Satu Malam di Bulanmu

Kamu di dekatku, kita hendak keluar Berjalan bersama-sama Aku menggenggam tanganmu Memastikan tidak ada yang menghalangi kita Tapi tidak sayang, di sana kita kan dihadang Lalu aku bercerita kepadamu melalui telepon Sebagaimana malam-malam sepi di sini Kau tertawa, tulus mendengarku Dan aku melekat padamu Jatuh hati tanpa mitigasi Semakin kusadari terutama setelah terdengar suara lain Suara yang kuketahui adalah cinta terakhir dan buah hatimu Bagaimana bisa mimpi membawakan perasaan yang kian nyata Menolak untuk mereda, Memohon untuk dikecap Apakah mimpi adalah tuangan pemikiran dan kekhawatiran Apakah mimpi adalah peringatan Apakah mimpi adalah teguran Apakah justru pertanda akan sebaliknya Mana mungkin kita tahu Yang kuyakini, kini perasaan ini nyata Mewujud jadi sesak. Lalu pada kata seorang guru, kuteringat: Apakah kita berjuang untuk bisa tetap bersama setiap hari? Satu hari lagi, satu hari lagi-- Betapa beratnya setiap hari! Saya justru memilih bersam...

-Ku

Baju ini bukan bajuku, Ini pakaian yang diberikan oleh orang lain lalu kukenakan di badan ini. Uang ini bukan uangku, Ini lembaran kertas berharga yang saat ini kusimpan di dalam dompet dan kartu. Rumah ini bukan rumahku, Ini bangunan yang saat ini menjadi tempat untukku pulang. Tangan ini bukan tanganku. Bukan pula aku. Ini jasad yang melekat padaku, dan kebetulan dapat kugerakkan. Dia bukan guruku, Dia orang lain yang mengajariku. Dia bukan temanku, Dia orang lain yang mau bersama diriku. Dia bukan pacarku, Dia orang lain yang mau bersepakat denganku untuk sesuatu. Mereka bukan orang tuaku, Mereka orang yang melahirkan dan membesarkanku. Perasaanku? Itu perasaan yang timbul di dalam pikiranku. Pikiranku? Kerja sel-sel otakku yang saling mengirimkan data. Otakku? Benda fisik yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa organ-orang vital lainnya yang secara bersama-sama akan membentuk sistem organisme yang memiliki kesadaran. Aku. T...

Merindukan Kematian

Setitik debu telah menjalar seperti sel kanker Menutup mata, menghentikan langkah Ruang dan waktu telah terdistorsi Racauan kian beresonansi Tidakkah ada yang lebih hampa Dari telinga yang dipenuhi dengan noise Alasan semakin sirna Tinggal dinding terakhir bernama sakit Ketika runtuh, utuh sudah

Soal Makan

Publikasi berarti memberi makan publik Kalau tak mau dikomentari, maka jangan berbicara apapun! Kita menuai apa yang kita tanam sendiri Baik busuknya, enak tidaknya Tapi seringkali, kita hanya mau makan apa yang kita mau Rancabungur 2019

Sontak Berontak

Semesta masih baik sama saya Tidak dia terima ide saya tentang skenario-skenario terburuk yang mungkin terjadi Tapi saya masih tetap belum bisa terima Soal skenario yang mengawali ini semua Kenapa? Terima kasih dan bedebah kau. Lalu soal malaikat yang satunya lagi Soal dia Dia mencarinya yang hitam dan putih Dia tahu Aku ingin cerita Tapi tidak layak Ah. Tidak semudah yang diucap Culik aku Jauh dari sini Dari dunia penuh dusta Yang paling menyakitkan se-RT (...) Akan mengerti bahwa ini tentang (...) Sanggupkah dirimu? Lalu kebebasan terenggut dari kata ruang Sejak mata berpasang-pasangan untuk mengawasi bersama "Mau lari ke mana?" Bukankah bebas adalah fana Bukankah bahagia adalah sesaat Bukankah damai adalah sejenak Bukankah ideal adalah khayali Bukan(kah) kau enigma yang abadi 24/12

Satu Hari Lagi Setiap Hari

Belakangan ini saya mencoba mendalami beberapa orang di sekitar saya. Saya dapati bahwa beberapa orang, sebutlah 3, memiliki hal yang serupa dengan saya meskipun dalam konteks yang berbeda. Kami--atau paling tidak saya, merasa saling mengerti betul bagaimana perasaan yang sedang kami alami. Bagaimana kami harus berusaha bertahan satu hari lagi setiap hari. Salah seorang dosen pernah berkata di kelas: "Apakah untuk mempertahankan pasangan dalam kehidupan, kita akan berpikir 'hari ini, saya akan mempertahankan dia satu hari lagi!' setiap hari? Tentu tidak, bukan? Bayangkan betapa beratnya memikirkan hal seperti itu setiap hari." Dan kami, berpikir demikian . Paling tidak saya. Atas dasar empati, saya ingin mengucapkan selamat kepada kita semua yang telah bertahan satu hari lagi . Selamat karena berjuang tidak semudah itu dilakukan dan dipahami oleh orang lain. Mari berjuang untuk satu hari lagi yang berikutnya dalam ketelanjuran hidup ini. Bersabarlah karena waktunya...