Posts

2908

Aku masih hidup.

Kabur

Ada sesuatu yang baru. Aku mengetik tanpa bisa betul-betul membaca kata-kata yang kutuliskan. Terkadang mataku mampu mengatur fokus, tetapi pada sebagian besar waktu, aku tidak dapat melihat dengan jelas. Penglihatan ini mengabur tanpa peduli jarak antara mataku dengan tulisanku. Semula aku berpikir bahwa ini adalah efek samping obat, tetapi kemarin dan hari ini penglihatan ini mengabur tak kenal waktu. Maksudku, bukan hanya setelah aku mengonsumsi obat. Silinder? Aku tidak tahu juga. Yang jadi masalah, mataku yang terhambat, mengapa pikiranku ikut terhambat? Seharusnya aku tetap bisa berpikir dengan lancar, terutama memikirkan solusi dari "permainan" menarik yang telah diberikan oleh seorang role model -ku. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika telinga tak bisa mendengar dengan baik. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika mata tak bisa melihat dengan baik. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika otak tak bisa berpikir dengan baik.

Sebelas (Percakapan)

"Mau minum apa?" Tanya pria itu. "Teh hangat manis," jawab perempuan itu. "Tumben, kamu tidak pesan kopi." "Selama beberapa minggu terakhir, aku selalu minum teh manis hangat setiap hari." "Wauw... kamu akan diabetes." "Tidak juga, ah." "Kemana saja kamu?" "Di sekitar sini saja, kok. Besok aku baru akan pergi." "Ke?" "Ke rutinitas yang biasanya." "Huh, kukira kamu mau pergi lagi." "Tebak! Aku punya ide bagus." "Apa itu?" "Bunuh diri pada hari ulang tahun." "Jangan." "Jangan tidak?" "Jangan lakukan. Kamu tidak akan melakukannya. Aku yakin itu." "Yah, memang kecil sekali sih kemungkinannya." "Tolong bilang peluangnya nol persen." "Tidak mau." "Kamu terlalu pengecut untuk melakukan itu." "Terima kasih atas semangatnya." "Ak...

Mengingat

Malam itu, ia bereksperimen lagi. Hanya satu jenis obat yang ia minum. Ia ingin tahu apakah dirinya sanggup berkegiatan dengan sokongan satu jenis obat, antipsikotik, tidak dengan penawarnya. Ia juga telah menurunkan dosis obat itu menjadi 0,5 mg. Bukan dosis yang dianjurkan oleh dokter, tetapi dokter telah mengizinkannya. Sampai saat ini, belum ada efek samping yang begitu berarti. Malam itu juga, ia keluar rumah dan mengikuti keramaian. Saat ia berjalan melewati sawah, disaksikannya kunang-kunang yang begitu banyak jumlahnya. Kunang-kunang itu mengingatkannya pada masa kecil yang pernah ia lewati. Terakhir kali ia melihat kunang-kunang sebanyak itu adalah ketika ia berjalan-jalan di lapangan golf. Mungkin sekitar 10 tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu, usianya masih setengah dari usia dirinya saat ini. Sepuluh tahun yang lalu, ia masih tinggal di kota kecil nun jauh di sana. Ia masih bercita-cita menjadi pribadi yang baik. Ia masih punya cita-cita. Ia tidak takut. Baru seje...

Ruangan Itu

Rini melangkahkan kakinya satu demi satu. Suara langkah kaki Rini memecah keheningan dan menuju sebuah ruangan. Ketika tepat berada di depan pintu ruangan yang ditujunya, Rini terdiam sebentar. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengapa kembali ke sini? Belum selesai pertanyaannya, batin Rini telah menjawabnya: karena aku rindu. Rini tidak mau menahan lebih lama lagi. Ia langsung membuka pintu ruangan itu. Ruangan itu gelap dan tak terlihat apa-apa. Debu-debu beterbangan ke luar, menyapu wajah Rini yang terhenyak di depan ruangan. Ruangan itu terasa asing. Rini ragu tentang apa yang ada di dalam ruangan itu. Bukankah dulu ruangan itu ramai? Setidaknya, pernah ada dua-tiga orang di dalamnya. Rini ingat betul bagaimana Warni, Kaku, dan Mirat berbincang satu sama lain. Kini, ruangan itu kosong. Kemana lagi aku harus pergi? Rini memasuki ruangan itu; tangannya menyisir dinding supaya tidak terjebak di dalam kegelapan. Dinding ruangan itu penuh debu, seolah sudah lama tidak di...

04:40

Tidur sebelum yang lain tidur, Bangun sebelum yang lain bangun Adalah aku dan pikiranku Adalah aku dan ingatanku Dingin pagi hari menembus aku Yang berlindung di balik selimut Getir ingatan merasuki diriku Yang perasaannya kini carut-marut Aku hanya rindu memuisi

Ak(am)u

Aku ada di sini. Selama kamu masih hidup, aku akan terus berada di sini. Menemanimu. Mengapa kaukungkung aku? Bebaskan aku. Bebaskan aku. Bebaskan aku. Aku tahu kamu mengerti dan kamu juga ingin aku muncul. Aku adalah kamu dan kamu juga adalah aku. Hentikan segala upayamu untuk meredamku, aku tahu kamu juga tidak tahu apa yang kaumau. Kamu mau aku yang mengambil kendali. Kamu mau aku menghancurkan tubuh ini. Kamu dan aku sama, kita punya keinginan yang sama. Kamu tentu bisa mendengar teriakanku dari kemarin. Kamu juga menulis ini karena kamu ingin agar aku keluar. Karena upayamu, kini aku datang tanpa kekerasan. Aku tidak mengambil rasa lega di kepalamu sebagaimana biasanya. Aku tidak mengambil rasa nyaman di tenggorokanmu seperti hari-hari sebelumnya. Aku bersahabat denganmu, dan kau juga akan menerimaku. Aku adalah kamu, kamu adalah aku. Kita satu. Kamu tidak akan menolakku. Ayo. Ayolah. Bebaskan aku. Keluarkan aku dari sini!

Jumat Kedua

Dia berbicara soal panggilan yang didapatinya ketika membaca sebuah buku. Dia bercerita soal pilihan yang dimilikinya untuk menentukan akhir cerita sebuah hubungan yang dimilikinya. Dia berkisah soal dirinya yang juga pernah menghancurkan dirinya sendiri tetapi sudah berhenti karena orang-orang di sekitarnya. Setiap orang punya kecepatannya masing-masing, Takdirnya masing-masing, Momennya masing-masing. Aku bisa mati kapan saja, karena apa saja.

Tuan Hitam dan Panggilan (yang Tak Kunjung Tiba)

"Aku menyadari perubahanmu; kamu mencoba untuk tidak lagi memperlakukanku sebagaimana dulu kaupercaya bahwa aku dapat menujumu. Kamu tidak lagi percaya bahwa aku dapat meyakini apa yang kauyakini dan kita dapat bersama. Bukan begitu?" "Demi aku dan dirimu, kamu sengaja mengubah sikapmu. Kamu ingin kita berjalan masing-masing karena demikianlah yang terbaik buat masing-masing dari kita berdua. Sebab logikamu begitu kuat, kamu tidak akan mengorbankan diri untuk perasaan. Sebaik-baiknya perasaan, akal sehat tetap penting dipakai sebagai dasar dalam memilih keputusan." "Bagaimana aku jadi tidak semakin mencintaimu kalau kau mencintaiku dengan cara yang indah? Kamu membimbingku, menemaniku, memedulikanku, hingga akhirnya perlahan meninggalkanku. Semua yang kaulakukan kupandang sempurna buatmu dan buatku. Dan mungkin itu yang membutakanku. Aku yang haus akan ilmu pengetahuan kausirami dengan kasih." "Dalam keadaan begini, bukan tidak mungkin aku ingi...

Bintang di Barat

Image
"Kudengar, sekarang-sekarang ini, Jupiter lagi kelihatan banget. Tapi aku nggak tahu Jupiter yang mana, hehe." "Yang itu bukan, sih?" Tunjukku ke satu titik yang bersinar paling terang. Dia tidak tahu; hanya percaya omonganku--sepertinya. Aku setengah sok tahu, tetapi cukup optimis dengan yang kutunjuk. Memoriku tentang bintang cukup banyak. Memoriku tentang memandang bintang bersama orang-orang lebih banyak lagi. Di sini, lampu di pemukiman tidak begitu banyak, sehingga bintang-bintang tampak lebih jelas. Aku bisa melihat rasi bintang salib selatan dan scorpio, tetapi aku baru sadar bahwa aku tidak melihat orion. Milky way juga tidak terlihat. Sejak kapan aku menyukai bintang? Aku tidak ingat. Apakah di malam ketika aku bersama beberapa orang berjalan-jalan dan melihat  bintang bersama-sama? Apakah di malam ketika seseorang memanggilku keluar, membuatku menunggu sendirian, menemuiku tanpa bicara, kemudian berpisah dan mengirim pesan tentang perasaan setelahn...