Posts

Asumsi

Barangkali Tuhan memang begitu    Hobi beretorika dan membuat teka-teki    Tanpa menyediakan jawabannya    Sengaja supaya hamba terus mencari-Nya    Dan hamba-hamba lain juga Tuhan,    kepada siapa aku harus percaya? Yogyakarta 13.10/17

Lompat

Setelah membayangkan bagaimana jika aku bunuh diri--kira-kira metode apa akan membuat kita merasakan apa? Sebab kalau bunuh diri tak berhasil, justru kesakitan atau cacat yang tak terperi yang bakal kita rasakan. Gantung diri? Oh, sepertinya saat leher ini tercekik dan mulai kehabisan napas, rasanya akan sangat menyiksa. Menelan banyak obat? Hmm, bagaimana kalau obatnya kurang atau ramuannya salah, sehingga rasanya justru sangat menyiksa? Memotong nadi? Membayangkan menyayat sedikit saja ngilu, bagaimana aku sanggup memotong pergelangan tanganku. (*) Kemudian ingatanku merambah kepada ucapannya: Kenapa takut mati? Jawabku: Tidak tahu. Karena... tidak tahu? Karena kita tidak tahu bagaimana kematian itu? Ia pun menjawab lagi: Ya, seperti itulah! Kalau kau tak takut mati, kenapa kau tidak lompat ke jalan saja sekarang juga? ... ...lompat. (*) Aku membayangkan diriku berada di gedung tinggi, menatap riuhnya jalanan kota. Angin berdesir kencang dan udara...

Ceracau Dini Hari

Sudah sebegini menyedihkannya-kah diriku? Sampai-sampai mengemis penghargaan. Maksudku, salahkah jika aku berharap ada orang yang amat menunggu kehadiranku, senang dengan keberadaanku, dan merasa terbantu jika ada aku di situ? Masih adakah aku di sela-sela hati kalian? Tahukah bahwa hatiku benar-benar terketuk ketika ada yang berkata bahwa ia tak sabar bertemu denganku; sebab ia menungguku karena kalimat-kalimatku terngiang di kepalanya? Tahukah bahwa aku amat tersentuh setiap kali membaca surat-surat yang merindukan keberadaanku waktu itu? Masih adakah yang menganggapku berharga? Saat aku sendiri pun tak dapat menghargai diriku sendiri. Karena pertikaian internal yang tak kunjung usai, membuatku lelah lalu abai dan terkulai. Apakah ini memang dasarnya manusia? Ingin memberi sesuatu pada yang lain demi memenuhi ego pribadi. Kontribusi. Sumbangsih. Jasa. Bantuan. Apapun tetek bengek lainnya yang sebangsanya. Benarkah memang demikian? Jika iya, menyedihkankah ini ata...

Siklus Air dan Manusia

/1/ Air mengalir Menjelma jadi butir Menggumpal jadi awan Turun sebagai hujan Lalu mengalir Kembali jadi butir Ke langit jadi awan Turun sebagai hujan Lagi; air mengalir Berubah jadi butir Berkumpul jadi awan Turun sebagai hujan Air masih mengalir Dan siklus tiada akhir /2/ Bibit manusia lahir Di dunia hanya melipir Beranak tinggalkan keturunan Mati di kuburan Anak yang lahir Di dunia sekadar mampir Beranak pula hasilkan keturunan Menyusul mati di kuburan Anaknya anak lahir Di dunia mampir melipir Kawin, tinggalkan keturunan Akhirnya mati di kuburan Cucunya anak telanjur lahir Lahir untuk akhir, berakhir dengan lahir /3/ Apa bedanya? Selain air tumbuhkan kehidupan Dan manusia sukanya menghabiskan air?

Sedekat Itukah Engkau, Tuhan?

Image
Masih adakah tempat untukku? Sedang aku, untuk bertanya pun telah jemu Jawaban yang tak kunjung datang Buatku menepis semua sebab bimbang. Pulang, jangan?

/Kesal/ahan, /Kekal/ahan, dan Am/arah/

/1/ Kesalahanku adalah Kesal akan kekalahanku Kemudian aku bertahan Kekal dalam kekalahanku Walau jadi lahan kewalahan /2/ Rebah Jadi marah Aku hilang arah Berdarah melawan pasrah Bernanah jadi lara Wajahmu merah merona merana Mataku biru sendu tersedu Kita putih letih bersedih Sembunyi dalam hitam padam tentram    Sandiwara kita

Aku Kering; Bawakan Air dan Akan Kutumbuhkan Bunga Untukmu

Kala aku mendengarkan lagu-lagu itu, seketika memoriku menyeruak. Tentang rumah dan keluarga yang satu lagi. Yang pernah selalu menjadi tempat untuk pulang. Tentang bagaimana kami beraktivitas bersama. Tentang kehidupan yang diajarkan. Diri ini telah berubah. Ya, perubahan memang selalu terjadi seiring berjalannya waktu. Tetapi kupikir ini bukan perubahan yang baik, dan aku tidak sanggup kembali ke idealisme yang dulunya kuyakini. Akankah aku mengulang siklus yang sama? Terjerembap dalam kegagalan diri, kemudian bertemu seseorang yang mampu menambatkan hati ini kepadanya. Setelah itu berpisah, hingga aku mundur, membentur tembok, dan tak bisa kemana-mana lagi. Satu-satunya jalan hanyalah pasrah sambil berdoa, kemudian aku kembali ke idealis yang kuanut. Apakah benar akan semudah itu? Ataukah aku memang tak bisa kembali? Sedang aku yang sekarang bukanlah lagi sama seperti dulu. Meski takdir sama menghantamku, respons diri ini belum tentu serupa. Bagaimana jika aku tak pedul...

Di Ambang Jatuhku

Dan sekarang, bagaimana bila aku jatuh? Adakah kebun bunga yang menghambatku berbenturan langsung dengan tanah? Akankah tanganmu merengkuhku ke dalam dekapanmu? Sedang aku terhuyung-huyung saat ini; Kupikir aku sebentar lagi akan jatuh, tetapi ke arah yang belum bisa diprediksi Siapa yang tidak takut jatuh? Siapapun takut terluka dan mati-- Aku juga. Tangkap aku, tolong? Atau aku yang jangan jatuh? Karena kalian hanya bermain di depanku Menikmati wahana lintasan yang kebetulan ada di depanku Dan kupikir, aku akan salah bila menjatuhkan diriku kepada seseorang yang hanya singgah untuk beranjak Tetapi kalau aku memang jatuh nantinya, Salah siapa?

Tentang Sejarah (Tulisan Random)

Ada berapa banyak orang yang telah Anda temui selama Anda hidup? Banyak, tentu banyak sekali. Di usia yang hampir menginjak 18 tahun ini, saya sendiri telah bertemu banyak orang dengan berbagai jenis. Walaupun tidak saya pungkiri, masih lebih banyak lagi jenis manusia yang belum pernah saya temui atau bahkan sekadar saya pikirkan. Akhir-akhir ini saya mulai mendekati ilmu-ilmu sejarah; berawal dari rasa penasaran seorang teman perihal kebudayaan yang berada di suatu wilayah. Hal itu membawa saya untuk mempelajari kebudayaan--dengan batasan "religi"--masyarakat di wilayah itu, sehingga saya juga perlu mempelajari sebagian sejarah yang melatarbelakangi kepercayaan masyarakat tersebut. Kemudian, dari pengalaman itu sendiri, dalam diri saya muncul pertanyaan-pertanyaan baru. Seperti, sebenarnya sejarah saya sendiri bagaimana? Saya ini orang mana, dari suku apa, ras apa; intinya mengapa saya bisa menjadi suatu entitas dengan nilai historis seperti itu? Selama ini mata saya ...

Sebenarnya, Orang Lainlah yang Memanusiakan Kita

Image
"Pemikiranmu kejauhan." "Ya nggak tahu kalau suatu saat nanti. Yang penting sekarang dijalani. Untuk apa dibuat terlalu serius?" "Pola pikir kamu aneh. Prinsip hidup kamu nggak jelas. Lantas, kamu mau seperti ini terus? Kalau saran saya sih, ubah saja. Ribet banget sih hidupmu? Saya kasihan sama cowokmu, atau orang yang deketin kamu nanti." "Aku kasihan sama kamu. Kamu menolak semua yang datang dengan pemikiran bahwa semua laki-laki itu sama. Kalau begini terus, lama-lama kamu jadi nggak peka. Kamu nggak tahu mana yang sebenarnya tulus ke kamu. Kasihan di kamu, kasihan di merekanya juga." "Sebenarnya bebas, sih. Terserah kamu." "Jangan terlalu ribet." "Ya kalau aku sih, lihat sekarang aja. Kenapa harus mikir sejauh itu." Ah. Kenapa saya jadi memikirkan omongan-omongan itu. Karena saya kembali ke 'keadaan itu'? Apakah saya merindukan menyayangi dan disayangi seseorang? Sedangkan saya tidak sia...