Lompat

Setelah membayangkan bagaimana jika aku bunuh diri--kira-kira metode apa akan membuat kita merasakan apa? Sebab kalau bunuh diri tak berhasil, justru kesakitan atau cacat yang tak terperi yang bakal kita rasakan.
Gantung diri? Oh, sepertinya saat leher ini tercekik dan mulai kehabisan napas, rasanya akan sangat menyiksa.
Menelan banyak obat? Hmm, bagaimana kalau obatnya kurang atau ramuannya salah, sehingga rasanya justru sangat menyiksa?
Memotong nadi? Membayangkan menyayat sedikit saja ngilu, bagaimana aku sanggup memotong pergelangan tanganku.

(*)
Kemudian ingatanku merambah kepada ucapannya:
Kenapa takut mati?
Jawabku:
Tidak tahu. Karena... tidak tahu? Karena kita tidak tahu bagaimana kematian itu?
Ia pun menjawab lagi:
Ya, seperti itulah! Kalau kau tak takut mati, kenapa kau tidak lompat ke jalan saja sekarang juga?
...
...lompat.

(*)
Aku membayangkan diriku berada di gedung tinggi, menatap riuhnya jalanan kota. Angin berdesir kencang dan udara relatif lebih dingin ketimbang di bawah. Tanpa berpikir apa-apa, kuhempaskan tubuhku kepada angin; kuhadapkan kepalaku searah gravitasi. Aku merasakan setiap akselerasi akibat energi potensialku, melalui jendela gedung yang semakin lama semakin kabur karena laju jatuhku semakin cepat. Angin menyapu wajahku amat kencang, keringat diriku tak sempat kurasakan lagi. Begitu kepalaku hampir menyentuh aspal, aku sempat menatap jalanan panas dan berdebu itu. Kepalaku akan menghantamnya.
"Aaaah!" Kupukul keras keramik dinding kamar mandi. Kepalaku terasa remuk. Aku membayangkan diriku jatuh dengan kepala duluan. Tengkorakku pecah, leherku patah, isi kepalaku terburai. Seketika jiwaku melayang entah kemana, menuju tanya yang selama ini jadi niscaya.

Tidak, tidak, tidak. Aku tidak akan sanggup melakukannya...

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri