Sisa Kafein Semalam
Dua malam ini, telah saya lewati dengan mata terjaga sebelum fajar menyingsing. Ketika ayam mulai berkokok--sayup-sayup, tubuh ini menolak untuk tidur dan bercengkrama dengan hal-hal yang saya senangi. Di malam kedua, saya menggunakan kafein sebagai dopping agar kantuk tak perlu mengusik kesenangan saya. Saya pikir, saya sudah gila, haha. Kerusakan memang tak selalu tampak. Segala puji bagi-Nya yang mampu melindungi aib-aib saya. Saat ini, saya masih menikmati kesenangan saya. Alunan dawai gitar dari gawai di tengah suara rintik hujan sore hari. Pembacaan puisi dan musikalisasi larik-larik sajak. Ah, jauh sekali dari dunia yang saya tekuni saat ini. Begitu banyak keinginan dari dalam diri ini. Saya pernah merasa berpikir bisa menjadi manusia super, tetapi apa yang saya lakukan justru menjadikan saya manusia yang setengah-setengah. Setengah hidup-setengah mati. Setengah waras-setengah gila. Perkara macam apa ini. Saya (merasa) tidak bisa menjadi satu. Pun, menjadi nol. Saya ...