Posts

Sisa Kafein Semalam

Dua malam ini, telah saya lewati dengan mata terjaga sebelum fajar menyingsing. Ketika ayam mulai berkokok--sayup-sayup, tubuh ini menolak untuk tidur dan bercengkrama dengan hal-hal yang saya senangi. Di malam kedua, saya menggunakan kafein sebagai dopping agar kantuk tak perlu mengusik kesenangan saya. Saya pikir, saya sudah gila, haha. Kerusakan memang tak selalu tampak. Segala puji bagi-Nya yang mampu melindungi aib-aib saya. Saat ini, saya masih menikmati kesenangan saya. Alunan dawai gitar dari gawai di tengah suara rintik hujan sore hari. Pembacaan puisi dan musikalisasi larik-larik sajak. Ah, jauh sekali dari dunia yang saya tekuni saat ini. Begitu banyak keinginan dari dalam diri ini. Saya pernah merasa berpikir bisa menjadi manusia super, tetapi apa yang saya lakukan justru menjadikan saya manusia yang setengah-setengah. Setengah hidup-setengah mati. Setengah waras-setengah gila. Perkara macam apa ini. Saya (merasa) tidak bisa menjadi satu. Pun, menjadi nol. Saya ...

Takut

Hai. Namaku Warni. Dan aku takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut Dunia semakin gila. Takut. Duniaku semakin gila. Takut. Takut. Takut. Kaku datang. Takut. Lubang menelan. Takut. Takut. Langkah kaki mendekat. Takut. Tak. Tak. Tak. Takut. Tak takut. Kuharap ku tak takut. Nyatanya aku takut. Walau aku tak nyata. Tetap. Takut. Takut. Takut. Pergi. Takut. Tahu apa kau tentang kebebasan. Takut. Takut. Tahu apa kau tentang terpenjara. Takut. Tahu apa kau tentang kegamangan. Takut. Getir. Takut. Tidak mati-mati. Takut. Akan mati. Takut. Meninggalkan jejak. Takut. Menghadap-Nya. Takut. Menangisi mereka. Takut. Kehilangan. Takut. Mereka siapa. Takut. Mereka apa. Mengapa? Takut. Hapus. Habis. Takut. Mengapa jadi begini. Takut. Takut. Kapan berakhir. Takut. Detak jantungku Takut Takut Takut. Kaku datang kaku pergi Kaku beri takut-takut Kaku takut-takuti aku Kaki kaku tak-tak melangkah aku. Takut. Takut. Takut....

Aku, Kopimu, dan Secangkir Laut yang Kauceritakan

Malam itu, aku duduk di salah satu bangku dari sebuah warung makan kecil di depan indekos. Layaknya anak muda zaman sekarang, akulah kaum milenial yang asyik dengan diriku sendiri--mengutak-atik media sosial di ponsel pintarku. "Kopi itemnya satu, mas!" Datanglah seseorang yang kemudian memesan secangkir kopi dan duduk tepat di sebelahku. Seorang perempuan berambut sebahu, mengenakan kaos oblong berwarna hijau dan sepasang sandal jepit berwarna hitam. Secangkir kopi hangat pun disajikan, perempuan itu menghirup uap kopi yang beraroma khas. Jujur, aku tak suka kopi. Entah kenapa teh jauh lebih nikmat bagiku, kopi membuatku merasa mual meski orang-orang berkata bahwa cairan yang mengandung kafein itu mampu menjadi sarana menggapai inspirasi. "Kamu suka berenang?" Tanya perempuan itu tiba-tiba, kepadaku. "Hah?" "Itu, ada tanda belang di samping matamu. Seperti bekas kacamata renang," lanjutnya. "Ooh, ini. Bukan, kok. Aku bisa berenan...

Dilema

Kalau bisa, aku mau menghilang saja dululah. Dunia ini begitu menarik, terlalu menarik bahkan. Aku pusing mesti memilih yang mana, waktuku hanya 24 jam sehari. Sekian.

Warna

"Dia sempurna banget, ya, di matamu." Adalah perkataannya ketika Warni menceritakan tentang Warna. Ada sorot yang berbeda kala itu, entah bagaimana, itu tampak sekali di balik kedua bola matanya. Tetapi bukan itu yang ingin Warni utamakan, melainkan saat ini bagaimanakah penilaiannya sendiri terhadap Warna? Cukup aneh memang, karena hal-hal semacam ini bukanlah sesuatu yang tepat untuk diceritakan. Tetapi Warni mendesakku, untuk mencoba menata pikiranku , katanya. Baiklah, kaumemang selalu punya kemauanmu sendiri, Warni. Mari mulai sesi bincang-bincangnya, haha. *** W: Warna memang punya kepribadian yang baik. Bertanggung jawab. Risau pertamanya adalah soal orang tuanya. U: Bagaimana kautahu? W: Ia sering menceritakan tentang keluarganya. Persoalan serius pertama yang ia tanyakan padaku adalah bagaimana latar belakang keluargaku. Aku ingat betul bagaimana ia stres memikirkan kondisi bapaknya saat terjadi masalah. Aku pernah melihatnya langsung, beberapa kali,...

Sepuluh Bulan yang Lalu

Image
Ingatanku melambung, kembali ke masa itu. Sepuluh bulan yang lalu. Pukul tiga pagi aku terbangun dengan sepasang mata yang telah basah oleh tangis. (*) Dalam tidurku sebelumnya, kubertemu denganmu. Dalam kegelapan malam, kukayuh sepeda, kemudian entah mengapa kutinggalkan sepeda itu. Aku berjalan melewati rel kereta, menyusuri gelapnya hutan. Saat merasa telah kehilangan arah, kutemukan kamu. Dengan beralaskan sepatu olahraga sekolah yang tak pernah kauganti selama tiga tahun silam, dan dibalut gamis putih yang berpendar, kaulemparkan sebuah senyum paling tulus yang pernah kusaksikan. Aku pun berjalan mengikutimu; dedaunan pepohonan mulai terbuka, dan... Bulan itu penuh. Lingkaran sempurna, dengan kesempurnaan pendaran sinarnya. Di sekelilingnya, bintang-bintang gemerlap memamerkan pesonanya. Kau dan aku diam. Kemudian aku terbangun. Pukul tiga pagi aku terbangun dengan sepasang mata yang telah basah oleh tangis. Aku rindu. Bawa aku kembali ke jalan dimana seharusnya aku me...

Tidak Semua Rindu Perlu Dilunasi

Aku rindu mencintaimu, Saat aku hendak mencintainya Karena ada yang hilang dari dirinya Yang kutemukan saat mencintaimu. Aku rindu mencintaimu, Melantunkan doa-doa, harapkan kesehatanmu; Cemaskan sakit dan hilangmu. Aku Rindu Diam dalam pertemuan kita Perasaan yang terkungkung dalam rahasia Yang telah lama terkubur; hampir sirna Namun sedikitpun aku tak merindukanmu Aku hanya rindu mencintaimu Rindu dicintai olehmu Aku ingin memandangmu tanpa mengingat yang lalu Mencintaimu yang ada di hadapanku Bukan kenangan, ingatan Tetapi tidak semua rindu perlu dilunasi, bukan?

(Semoga) Akhir Seonggok Sampah

Bagaimana mungkin Warni tak sadar bahwa saudaranya telah berjalan-jalan jauh selama ini. Sedang ia selalu berada di dekatnya. Bagaimana bisa Warni abai akan perasaan keluarga yang selalu mengharap kebaikan baginya. Bagaimana bisa, ia tega mengkhianati kepercayaan itu. Apa yang kau berikan kepada mereka yang memberimu. Kau sibuk memikirkan kehancuranmu, tetapi kerjanya terus meratap dan sekadar berharap 'kan datang penolong. Kutahu kau tukang khayal, tetapi kaupikir dunia seindah imajinasimu? Lari dari kenyataan untuk keindahan semu. Kesenangan yang fana. Apa yang kaukejar? Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, sampai-sampai tak sadar bahwa jasadmu telah bertransformasi menjadi kebusukan tak berguna. Sampah. NB. Pergilah.

Refleksi

Image
Diam dan berpikir, melakukan kontemplasi. Sinar datang menerpa. Foton berosilasi, elektron beresonansi. Cahaya terpantul dan realita timbul dalam imaji. Refleksi. (*) Aku ingin tahu diriku; beri aku kaca dan lapisan perak supaya aku dapat bercermin. Aku ingin kenal diriku; beri aku seseorang kemudian ajak aku bicara, tentu tanggapanmu merupakan respons dari sesuatu yang telah kukeluarkan. Aku ingin paham diriku; beri aku sekumpulan manusia, maka aku akan punya penilaian terhadap kelompok manusia tersebut sehingga aku akan memahami bagaimana paradigma yang kuyakini. Aku, aku, dan aku. Kepalaku sakit. Diriku, pergilah. Diriku, bercerminlah. (**) Cermin, datanglah, takkan kuremukkan dirimu karena aku butuh kamu. Paling-paling justru kepalaku yang akan kuhentakkan ke dinding itu, sampai dentumnya kaudengar karena menusuk hingga ke ubun-ubunmu. Supaya kautahu betapa hancurnya diriku melihat refleksiku. Dalam keributan ini, aku memilih diam. Untuk menangkap ...

Khayal?

Kembali ke Pohon. Warni sedang diam sore ini. Ia hanya ingin diam. Barangkali ia lelah. Ditambah lagi dengan datangnya pertanyaan dari salah seorang kawan tadi siang--sebuah pertanyaan sederhana yang justru mengaduk-aduk emosinya. Sebab pertanyaan itu adalah akar dari segala keraguan yang menggerayang pikiriannya. Rona Warni sore itu, semendung langit sehabis hujan. Tak kunjung cerah sebab hari pun tengah berganti malam. Pohon itu, tempatnya berteduh. Tetapi sebenarnya, aroma manis yang ditebar Pohon tak lain ialah halusinogen yang memabukkan Warni. Seolah terbang, pindah ke dalam ketenangan yang semu. Ketenangan sesungguhnya, yang pernah menyelubungi dirinya... kemanakah? Burung punai dalam genggaman, ia lepas. Ketenangan yang sejati, dilepasnya, digantikan kesenangan semu. Salahkah? Sudah, diamlah sejenak. Lihat. Saksikan. Pikirkan. Renungkan. Tetapi ada sesuatu yang mengacaukan pikiran Warni... Kecemburuan itu dijawab dengan sebuah pertanyaan lanjutan: ...