Safety First!

Walaupun setiap orang berusaha terhindar dari kecelakaan, kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih banyak terjadi. Bahkan menurut WHO (World Health Organization), dalam 2 tahun terakhir kecelakaan lalu lintas di Indonesia menjadi pembunuh terbesar ketiga setelah penyakit jantung koroner dan tuberculosis (TBC).
Menurut informasi dari Badan Pusat Statistik (BPS), kecelakaan yang terjadi di Indonesia, mulai dari tahun 1992 hingga 2004 relatif menurun, walau ada sedikit kenaikan. Tahun 2004, terjadi sedikit kenaikan dan pada tahun 2005, terjadi kenaikan drastis. Lalu, setelah jumlahnya mulai menurun lagi, pada tahun 2011, terjadi kenaikan drastis lagi hingga 63,48%.
Bahkan, selama H-7 hingga H+6 lebaran, dimana arus mudik dan arus balik sangat padat, terjadi 3.061 kasus kecelakaan lalu lintas yang menewaskan 686 orang. Dalam periode yang sama pada tahun lalu, jumlah korban tewas akibat kecelakaan adalah 757 orang. Meskipun presentasenya menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tetapi jumlah kecelakaan dan korban jiwa tersebut tetap saja tidak sedikit.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal segala macam perlengkapan safety seperti helm, sabuk pengaman, air bag, dan sebagainya telah dibuat demi keselamatan berkendara.
Penyebab utamanya adalah sebagian besar pengendara tidak memperhatikan keselamatannya. Walaupun peraturan lalu lintas telah ditegakkan dari dulu, masih banyak pelanggar aturan yang tidak mengetahui akibat bila ia melanggar peraturan tersebut. Mungkin mereka tahu, tetapi mereka tidak peduli. Tidak peduli akan keselamatan dirinya, penumpangnya, maupun orang lain.
Contoh pelanggaran peraturan lalu lintas sangat banyak dan dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kelebihan kapasitas penumpang, tidak memakai helm dan sabuk pengaman, pengendara di bawah umur, tidak menyalakan lampu di siang hari (khusus motor), melanggar rambu-rambu lalu lintas, dan sebagainya. Padahal peraturan lalu lintas tentu telah dibuat berdasarkan pertimbangan dan kepentingan bersama. Misalnya, bila seorang pengendara motor menerobos lampu merah. Ia bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga membahayakan orang yang diboncengnya (bila ada), pengendara dari arah lain, serta penyebrang jalan.



Selain itu, polisi lalu lintas yang seharusnya tegas dalam menegakkan peraturan pemerintah, seringkali mau menerima bayaran untuk menebus kesalahan sang pelanggar. Sehingga pelanggar aturan dapat terbebas dari sidang lebih lanjut. Padahal, bila bukan aparat keamanan yang bisa menegaskan peraturan, siapa lagi?
Seolah-olah peraturan lalu lintas dibuat untuk dilanggar.
Jika ingin jumlah terjadinya kecelakaan lalu lintas di Indonesia menurun, semua pihak harus bekerja sama. Setiap pengendara motor, mobil, truk, dan kendaraan lainnya harus selalu menaati peraturan yang ada. Sebab, setiap aturan memiliki manfaatnya. Memakai helm dan sabuk pengaman dapat mencegah luka berat bila terjadi kecelakaan, pengendara yang umurnya cukup serta memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) dan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) menandakan bahwa pengendara tersebut telah bisa mengendarai kendaraan dengan baik dan benar, mematuhi rambu lalu lintas dapat menciptakan suasana yang tertib dan aman, dan lain-lain.
Selain itu, orang tua juga harus memiliki pengetahuan mengenai lalu lintas dan mendidik anaknya sejak dini; terutama mengenai aturan tidak boleh mengendarai kendaraan sebelum memiliki SIM. Ironisnya, saat ini masih banyak pengendara di bawah umur yang belum mendapatkan SIM, tetapi diperbolehkan—atau bahkan terkadang disuruh—oleh orang tuanya. Bukankah setiap orang tua mengharapkan keselamatan anaknya?
Guru dan pihak kepolisian juga memegang peran penting. Guru dapat menegaskan peraturan di sekolah mengenai lalu lintas; yaitu pelajar yang masih di bawah umur belum boleh mengendarai kendaraan bermotor ke sekolah maupun dari sekolah. Di samping itu, guru dan kepolisian dapat bekerja sama mensosialisasikan aturan-aturan lalu lintas yang penting bagi setiap orang. Sementara di luar, kepolisian harus lebih ketat dalam mengawasi dan melakukan razia mendadak kepada setiap pengendara. Apabila pengendara tersebut memang bersalah, jangan sampai uang dapat menebus kesalahannya. Sebab, nyawa dan keselamatannya yang tentu tak bisa dibayar, menjadi taruhannya.
Sudah saatnya setiap individu menyadari pentingnya keselamatan. Kita harus sadar bahwa nyawa dan kesehatan adalah hal yang sangat penting dalam hidup kita, karena tanpa kedua hal tersebut, tentu kita takkan bisa melakukan apa saja.

Selalu utamakan keselamatan. Safety first!





Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri