Posts

Déjà Vu (3)

Temanku yang seorang Buddhis pernah bilang kalau ia sebal dengan orang yang mengatakan karma is a bitch . Seolah-olah, karma selalu merupakan balasan atas keburukan. Padahal, karma atau kamma sebetulnya berarti perbuatan. Perbuatan kita saat ini adalah akibat dari perbuatan di masa lalu. Hukum sebab-akibat. Konsekuensi. Setelah merasakan hal yang sama terulang kembali , kini aku punya firasat kuat bahwa aku akan mengalami sesuatu yang sama untuk ketiga kalinya. Entah apakah aku akan mengalaminya, atau sebenarnya aku sedang mengalaminya. Pertanyaan yang terlintas ketika aku merenungi pola ini adalah, "karma apa yang telah kulakukan sehingga pola ini terus berulang?" Dalam acara Seninan empat hari yang lalu, kami membahas topik yang bertajuk "Berwisata ke Dalam Diri". Ternyata, topik ini mengarahkan kami untuk healing our inner child . Ada salah satu pembahasan dalam hal ini yang terkait dengan dua paragraf sebelumnya. Disebutkan bahwa salah satu ciri inner child...

Afirmasi Berani Sendiri

/1/ Afirmasi Aku akan mampu Melewati ini Sendiri Aku akan kuat Menghadapi ini Sendiri Aku akan cukup Pasti bisa cukup Untuk diriku Sendiri ... =============== /2/ Berani Tubuh terintegrasi Kuat melangkah Menjelajahi jagat gede Menyelami jagat cilik Aku adalah sebutir nasi dalam tumpeng Sadar bernapas Selalu waspada Menerima masa depan Menerima masa lalu Aku adalah sekarang yang tak pernah ada =============== /3/ Sendiri ... Karena aku akan menyertai Diriku sendiri Sampai mati

Metaphore

You cannot just destroy something Like make it disappear It's because the conservation law If you don't give any force on it It goes nowhere but in its initial position Because it has inertia You probably don't realize, But it happens for a reason There is always a reaction for every action You can blame But you can't change Universe rules

Kupu-kupu

Seekor kupu-kupu Terbang ke balik daun Untuk berlindung dari Sinar matahari Ketika ia berhenti Manusia hendak menangkap Kupu-kupu terbang lagi Sampai ia hinggap di mahkota bunga Seekor kucing penasaran Hendak mencaplok antenanya Kupu-kupu terbang lagi Sampai ia mendarat di pucuk pohon Angin menghempas keras Badan dan sayapnya yang rapuh Kupu-kupu terbang lagi Sampai malam tiba juga Kupu-kupu beristirahat di jendela Seekor tokek datang kelaparan Belum sempat dijulurkan lidahnya Kupu-kupu terbang lagi Akhirnya ia buat keputusan Kupu-kupu tak akan berhenti terbang Bahkan meski sekadar singgah "Biar saja," katanya Kupu-kupu terbang terus Sampai ditemukan mati kelelahan

Alice in Borderland

Image
Paling tidak sekitar 7-8 tahun yang lalu, aku mulai mengenal manga yang berjudul Alice in Borderland (Imawa No Kuni No Arisu). Manga ini muncul di dalam Shonen Star , majalah komik Indonesia yang terbit rutin sebulan sekali dan sempat dua bulan sekali. Waktu itu, aku begitu menikmati cerita ini, namun sayangnya Shonen Star berhenti terbit. Akhirnya aku mulai mencari manga ini di internet, melanjutkan membacanya, hingga akhirnya aku berhenti karena waktu itu Alice in Borderland belum tamat. Alice in Borderland Kemarin, aku membahas manga dan anime Jepang dengan dia. Ia menyarankanku untuk menonton anime Attack on Titan, tetapi justru aku ingat bahwa aku belum selesai membaca Alice in Borderland. Kucari informasi tentangnya, ternyata serial itu sudah lama tamat. Akhirnya aku memutuskan untuk membacanya lagi dari awal. Tidak sampai 24 jam, aku menyelesaikan manga yang berjumlah 64 bab ini. Perlu diketahui, meski hanya 64 bab, Alice in Borderland memiliki banyak sekali side stor...

Metta

Manusia itu pembelajar seumur hidup. Manusia bisa belajar dari pengalaman orang lain, misalnya dengan membaca atau mendengar cerita hidup orang lain. Tetapi pada akhirnya manusia akan belajar dari tindakan yang dilakukannya sendiri. Dalam proses pembelajaran, manusia akan melakukan trial and error . Tidak mungkin ada proses yang berjalan selalu mulus, lancar, dan langsung mencapai tujuannya--inilah yang biasanya dikatakan oleh banyak orang. Nyatanya, ini adalah realitas yang masih sulit saya terima. Saya terbiasa berada di lingkungan yang sempurna. Apapun yang saya inginkan, saya akan memperjuangkannya sampai keinginan itu tercapai. Akhirnya saya jarang bertemu dengan kegagalan. Akibatnya, saya jadi kurang bisa mengatasi diri sendiri ketika menemui kegagalan. Yang bisa saya lakukan (dan selama ini saya lakukan) adalah tindakan preventif: menurunkan ekspektasi serendah-rendahnya. Dengan demikian, saya tidak akan kecewa dengan pencapaian saya. Masalah mengatasi kegagalan ini bukan...

Menunggu Mengakhiri

A E F#m E Pada setiap sore D A Bm E Kupetik gitar di halaman A E F#m E Bernyanyi untuk rumput piaraan D E A Bersama kicau burung liar Kadang aku menari Bersama pohon tertiup angin Atau dengan rintik hujan Ke kanan dan ke kiri A E F#m A Mereka bilang ini normal yang baru Bm E Kubilang ini yang kurindu A E F#m A Menikmati sepi sendiri D Dm E Menunggu kapan aku berani A Mengakhiri Gerimis baru saja berhenti Suara kucing terdengar lagi Rindu ini masih mendelik Akankah terjawab sunyi

Minggu Paskah 2019

Kita takkan pernah tahu seberapa bermakna kehadiran kita terhadap kehidupan orang lain. Tulisan ini aku persembahkan kepada seorang teman yang potongan hidupnya pernah kutuliskan dalam tulisan lama. Kemarin Jumat Agung, besok Minggu Paskah. Hari ini aku di rumah saja, berbeda dengan tahun lalu. Pada hari Jumat Agung tahun lalu, aku datang ke sebuah tempat yang kukunjungi setiap Jumat malam. Malam itu, aku tidak ditemani teman-temanku. Aku datang sendirian. Selesai acara, aku memberanikan diri untuk mengobrol lebih dalam dengan Mas Bram. Ya, sebelumnya, aku pernah menceritakan diriku dan meminta saran kepada Mas Bram dan beberapa orang yang waktu itu ikut mendengarku. Namun, malam itu, Mas Bram mengarahkanku untuk mengobrol dengan Romo Totok. Romo Totok pernah mempelajari hipnoterapi dan sepertinya beliau bisa memberiku arahan dengan lebih baik. Di tepi ruangan, aku mengobrol dengan Romo Totok. Aku menceritakan kondisiku dan pemikiranku. Saat itu, ada satu orang lagi yang iku...

Sepotong Tempe di Atas Nasi

Aku lupa rasanya sembuh Obat-obatan selalu mengingatkanku bahwa aku sakit Terkadang aku merasa sudah baik-baik saja Nyatanya tidak Apa perbedaan baik-baik saja dengan tidak baik-baik saja? Aku menyakiti seseorang lagi hari ini Dua orang, jika ditambah dengan diriku sendiri Apakah perasaan ini sedih, gusar, gulana Apakah aku tengah memberi makan emosi negatifku Kalau aku melakukan itu, apakah artinya aku tidak sadar? Aku sadar Aku sadar penuh Aku bisa mengendalikannya, tetapi, untuk apa? Aku kehilangan alasan untuk tidak melakukannya Mungkin nilai-nilaiku yang telah habis dilahapnya Akal sehatku yang telah bersih disisihkan Yang tidak menangis belum tentu lebih baik Kita sekarat setiap hari Apakah aku bisa kembali, atau justru pergi

Swadiagnosis

Kurasa ini bukan lagi Soal efek samping boti Yang kuminum setiap hari Kurasa ini bukan keracunan Tablet dan kapsul yang kutelan Setiap pagi dan malam Melainkan peringatan alami Psikosomatis yang menggigit Napasku sering hampir habis Berbunyi ketika udara ditarik Ia mulai merambat ke siang hari Bergantian dengan kepalaku yang melayang Juga dengan tubuhku yang melemas Lalu diikuti pandangan yang mengabur Bukan sekali kuingin akhiri Menelan 20 butir dalam sekali Atau lebih Takaran untuk pergi, belum kuketahui Atau memperdalam sayat Di bagian yang tepat Atau melompat Tanpa rencana mendarat "Itu harusnya tidak ada. Sudah ada obat antinya." Tawaku tanggung jawabku Tangisku urusanku Orang lain tetaplah orang lain Aku sendiri Siapa yang mengerti? Percuma