Alice in Borderland

Paling tidak sekitar 7-8 tahun yang lalu, aku mulai mengenal manga yang berjudul Alice in Borderland (Imawa No Kuni No Arisu). Manga ini muncul di dalam Shonen Star, majalah komik Indonesia yang terbit rutin sebulan sekali dan sempat dua bulan sekali. Waktu itu, aku begitu menikmati cerita ini, namun sayangnya Shonen Star berhenti terbit. Akhirnya aku mulai mencari manga ini di internet, melanjutkan membacanya, hingga akhirnya aku berhenti karena waktu itu Alice in Borderland belum tamat.

Alice in Borderland

Kemarin, aku membahas manga dan anime Jepang dengan dia. Ia menyarankanku untuk menonton anime Attack on Titan, tetapi justru aku ingat bahwa aku belum selesai membaca Alice in Borderland. Kucari informasi tentangnya, ternyata serial itu sudah lama tamat. Akhirnya aku memutuskan untuk membacanya lagi dari awal. Tidak sampai 24 jam, aku menyelesaikan manga yang berjumlah 64 bab ini. Perlu diketahui, meski hanya 64 bab, Alice in Borderland memiliki banyak sekali side story yang menurutku tidak bisa dibilang sebagai *side* story, sebab cerita itu sama pentingnya untuk membangun pemahaman pembaca mengenai cerita di dalamnya.
Aku ingin sekali menceritakan apa yang kudapat dari manga ini, karena menurutku manga ini luar biasa. LUAR BIASA. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kubaca. Maka kuperingatkan terlebih dahulu, aku akan menyampaikan spoiler dari manga ini.
Kisah ini berawal dari seorang siswa bernama Arisu yang merasa bosan dengan hidupnya. Ia selalu dibandingkan dengan adiknya yang pintar. Ayahnya tidak pernah betul-betul memandangnya. Suatu ketika, ia berharap dirinya bisa pergi ke suatu tempat yang amat berbeda, atau terjadi sesuatu pada dunia ini seperti bencana, serangan zombie, atau semacamnya. Pada suatu malam, Arisu dan kedua temannya tengah berjalan menyusuri rel kereta. Menjelang dini hari, mereka melihat kembang api yang sangat besar. Tahu-tahu, mereka "terlempar" ke Tokyo yang berbeda. Kota itu masih sama, namun tak ada orang lain. Semua bangunan tampak tua dan terbengkalai, penuh debu, dan segala macam makanan telah busuk. Jalanan ditumbuhi rumput liar, hewan-hewan liar juga hidup lebih bebas. Pada mulanya mereka menikmati dunia itu, hingga akhirnya malam hari tiba.
Ketika malam tiba, mereka baru mengetahui kalau mereka telah terjebak di dunia itu. Dunia itu bernama Borderland. Mereka punya visa yang menyatakan berapa lama lagi mereka boleh hidup di Borderland. Untuk memperpanjang visa, mereka harus bermain game. Game yang diberikan beragam, namun di situ kau bisa menang dan menerima tambahan hari dalam visamu, atau kalah dan mati. Jika visamu berakhir, kamu akan mati ditembak laser dari langit. Aturan yang ada di dalam game bersifat mutlak. Tingkat kesulitan game ditandai dengan kartu. Kartu AS adalah tingkat paling mudah, sedangkan King adalah tingkat paling sulit. Game dengan simbol sekop mengutamakan kekuatan fisik, wajik mengutamakan kecerdasan, keriting bersifat gabungan, sedangkan hati mengutamakan permainan psikologis. Setidaknya itulah yang mereka pelajari dari orang yang mereka temui di Borderland. Namun sejatinya, semua orang di Borderland sama seperti mereka. Semuanya melihat kembang api yang sama, kemudian tersadar di Borderland tanpa tahu apa-apa.
Tadi itu baru pembukaan. Setelah ini aku akan membeberkan berbagai spoiler dalam serial manga ini.
Arisu digambarkan sebagai tokoh yang bisa dikatakan, pada mulanya, tidak memiliki semangat hidup. Begitu juga dengan karakter-karakter lainnya. Namun, game yang membuatnya selalu di ambang hidup dan mati, menyaksikan orang-orang bertahan hidup dan mati, terpaksa harus membunuh orang lain, membuatnya mulai mempertanyakan makna kehidupan. Ia ingin sekali mendapatkan jawaban mengenai Borderland. Apa itu Borderland? Siapa yang menciptakan permainan ini? Mengapa ia harus melakukan permainan ini? Mengapa ia harus terus hidup? Dan seterusnya. Perjalanan Arisu dalam mencari jawaban ini menarik, tetapi manga ini tidak hanya fokus kepada perkembangan karakter Arisu. Menurutku, manga ini memetaforakan kehidupan manusia, kemanusiaan, dan juga mengelupas berbagai sisi yang dimiliki oleh setiap manusia yang berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap sama.
Di Borderland, Arisu bertemu dengan banyak orang. Masing-masing orang punya latar belakang yang berbeda-beda. Masing-masing orang pun memiliki peran yang berbeda-beda di Borderland. Ada orang yang memilih untuk hidup, membunuh, mengorbankan dirinya, karena alasan masing-masing. Ada orang-orang yang terus berusaha mencari jawaban tentang kemisteriusan aturan di Borderland, tetapi pada akhirnya ada orang-orang yang hidup dengan menikmati berbagai game di Borderland. Salah satu karakter yang kusukai adalah Kuzuryuu. Sebelum tiba di Borderland, ia merupakan seorang pengacara yang sangat idealis. Ia merasa bahwa semua nyawa manusia sama dan perlu dilidungi. Namun, realita kehidupan menghajarnya. Dalam hidup, yang kaya bisa menang dan punya privilese. Begitu tiba di Borderland dan bertemu dengan permainan yang saling membunuh, ia mulai melakukan perjalanan mencari makna hidup manusia. Pada akhirnya, Kuzuryuu mati dengan memilih bahwa dirinya tidak bisa memilih mana nyawa manusia yang lebih bermakna di antara beberapa jumlah manusia.
Menurutku, Borderland adalah kehidupan ini. Untuk terus hidup, kita selalu "bermain" dari satu game ke game berikutnya. To kill is to keep another one live. Kita harus membunuh makhluk lain, katakanlah hewan dan tumbuhan, untuk tetap hidup. Kita lahir dalam kehidupan yang brutal dan tidak jelas maknanya. Kita bisa terus mengejar jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam hidup, memutuskan bagaimana menjawabnya, ataupun memutuskan untuk tidak menjawabnya.
Manga ini memiliki banyak sekali plot twist. Plot twist seringkali muncul di dalam game, misalnya: ternyata cara menyelesaikan game ini seperti ini, ternyata aturan game ini bisa diakali dengan cara itu, ternyata orang ini yang mati duluan, dan lain-lain. Salah satu plot twist terbesar yang sempat memusingkanku adalah, di tengah-tengah cerita, dikatakan bahwa ternyata Arisu sakit jiwa. Ketika berjalan menyusuri rel kereta, ia tidak sanggup menyelamatkan teman-temannya yang kemudian tertabrak kereta. Kejadian itu membuat Arisu terpukul sehingga perlu dirawat oleh dokter jiwa. WHAT THE HELL. Aku sempat hampir percaya dengan cerita itu, tetapi ternyata tidak, itu hanya tipu daya yang dilancarkan di dalam game supaya Arisu kalah. Sempat dikatakan juga bahwa Borderland adalah dunia 1000 tahun lagi, dimana peradaban sudah sangat maju sehingga manusia tidak lagi merasa sakit dan mengalami kematian. Akhirnya, manusia mulai bosan, sehingga menciptakan game virtual reality yang mereka lakukan di Borderland. Gila.
Pada akhirnya, Arisu dan kawan-kawan mengalami pertarungan final melawan Jack, King, dan Queen. Setelah semua Jack-King-Queen berhasil dikalahkan, pemain yang masih hidup boleh memilih untuk menjadi warga negara Borderland atau tidak. Jika mereka memilih menjadi warga negara Borderland, mereka akan melanjutkan game selama-lamanya. Jika tidak, belum ada yang tahu. Arisu memilih tidak menjadi warga negara Borderland, dan berikutnya, ia tersadar di rumah sakit. Rupanya ada meteor yang mengenai Tokyo. Arisu berada dalam keadaan yang kritis dan jantungnya sempat berhenti mendadak. Arisu tidak ingat apa-apa selama ia tak sadarkan diri... Borderland adalah near death experience (border = perbatasan, Borderland = alam perbatasan hidup dan mati). Arisu bahkan tidak mengingat orang-orang yang ia temui selama di Borderland ketika bertemu di dunia nyata, tetapi pada akhirnya Arisu bertemu lagi dengan Usagi, heroine dalam manga ini (yang menjadi cinta Arisu). Saat baru bertemu, Arisu bertanya, "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Mereka pun berkenalan dan akhirnya menjalin cinta di dunia nyata. Arisu melanjutkan pendidikannya ke bidang psikologi dan Usagi tetap hobi mendaki gunung dan memanjat tebing sebagaimana sebelumnya.
Ending dari manga ini tentu mengingatkanku pada Kimi No Nawa (Your Name), sebuah film Jepang yang membuat mewek banyak orang. Lalu, beberapa scene dalam manga ini mengingatkanku pada The Dark Knight. Jika di The Dark Knight, Joker berkonfrontasi dengan Batman dan mengatakan bahwa mereka serupa, pada Alice in Borderland terdapat beberapa momen serupa. Misalnya, ketika Chishiya berhadapan dengan Kuzuryuu, ketika Arisu bertemu Kyuuma, dan ketika Niragi menyerang Arisu dan Chishiya.
Sebelum membaca Alice in Borderland, aku belum tahu cerita Alice in Wonderland. Aku hanya tahu bahwa ada tokoh kelinci di kisah lama yang legendaris itu. Arisu adalah Alice dalam bahasa Jepang, sedangkan Usagi berarti kelinci. Kupikir itu saja elemen yang diambil oleh penulis manga ini dari Alice in Wonderland, ternyata tidak. Permainan terakhir yang dilakukan oleh Arisu dan Usagi adalah game melawan Queen of Heart, dimana mereka bermain croquet di taman bunga mawar. Rupanya, adegan ini diambil dari Alice in Wonderland. Wonderland sebagai mimpi juga kurang lebih sama dengan Borderland sebagai alam "sementara" manusia. Kamu merasa telah pergi jauh, bertemu berbagai orang, berbagai hal yang tak masuk akal, tetapi sebetulnya kamu tidak kemana-mana. Kamu ada di dalam dirimu sendiri. Di tengah cerita, Arisu juga sempat bertemu dengan Hatter yang memang cukup gila, meski tak segila Mad Hatter di Alice in Wonderland--menurutku. Aku penasaran apakah ada hal lain yang diambil dari Alice in Wonderland ke dalam Alice in Borderland.

Edit: Chishiya adalah Cheshire Cat! Senang sekali mengetahui ini, karena Chishiya adalah salah satu karakter favoritku di Alice in Borderland sedangkan Cheshire Cat juga karakter favoritku di Alice in Wonderland.

Niragi menyerang Arisu dan Chishiya

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri