Déjà Vu (3)
Temanku yang seorang Buddhis pernah bilang kalau ia sebal dengan orang yang mengatakan karma is a bitch. Seolah-olah, karma selalu merupakan balasan atas keburukan. Padahal, karma atau kamma sebetulnya berarti perbuatan. Perbuatan kita saat ini adalah akibat dari perbuatan di masa lalu. Hukum sebab-akibat. Konsekuensi.
Setelah merasakan hal yang sama terulang kembali, kini aku punya firasat kuat bahwa aku akan mengalami sesuatu yang sama untuk ketiga kalinya. Entah apakah aku akan mengalaminya, atau sebenarnya aku sedang mengalaminya. Pertanyaan yang terlintas ketika aku merenungi pola ini adalah, "karma apa yang telah kulakukan sehingga pola ini terus berulang?"
Dalam acara Seninan empat hari yang lalu, kami membahas topik yang bertajuk "Berwisata ke Dalam Diri". Ternyata, topik ini mengarahkan kami untuk healing our inner child. Ada salah satu pembahasan dalam hal ini yang terkait dengan dua paragraf sebelumnya. Disebutkan bahwa salah satu ciri inner child kita belum teratasi adalah: kita akan terus bertemu dengan pola yang sama, alias looping. Waktu, tempat, dan pelakunya mungkin akan berbeda-beda, tetapi inti kejadiannya tetap sama. Sebab, saat inner child belum sembuh, kita akan berusaha mencari pertolongan dari luar secara tidak sadar. Semesta pun akan mendukung kita untuk menjadi master dari pola tersebut.
Trauma ini ternyata masih ada. Ketakutan ini masih bangkit dengan sedikit pemicu yang mungkin bisa saja salah, tapi aku tak tahu mana yang benar. Diriku secara spontan masih mencari subjek untuk disalahkan, dan diri sendiri adalah subjek terdekat yang paling bisa disalahkan. Aku tahu bahwa sepantasnya aku menerima, tetapi memang tidak semudah itu. Kali ini, aku tidak ingin melawan. Aku akan menunggu sampai waktunya tepat. Dan semesta selalu tepat waktu.
Comments
Post a Comment