Metta

Manusia itu pembelajar seumur hidup. Manusia bisa belajar dari pengalaman orang lain, misalnya dengan membaca atau mendengar cerita hidup orang lain. Tetapi pada akhirnya manusia akan belajar dari tindakan yang dilakukannya sendiri.
Dalam proses pembelajaran, manusia akan melakukan trial and error. Tidak mungkin ada proses yang berjalan selalu mulus, lancar, dan langsung mencapai tujuannya--inilah yang biasanya dikatakan oleh banyak orang. Nyatanya, ini adalah realitas yang masih sulit saya terima.
Saya terbiasa berada di lingkungan yang sempurna. Apapun yang saya inginkan, saya akan memperjuangkannya sampai keinginan itu tercapai. Akhirnya saya jarang bertemu dengan kegagalan. Akibatnya, saya jadi kurang bisa mengatasi diri sendiri ketika menemui kegagalan. Yang bisa saya lakukan (dan selama ini saya lakukan) adalah tindakan preventif: menurunkan ekspektasi serendah-rendahnya. Dengan demikian, saya tidak akan kecewa dengan pencapaian saya.
Masalah mengatasi kegagalan ini bukan hanya menyangkut diri saya, tetapi orang lain. Ada beberapa orang yang selama ini saya anggap sempurna. Ketika bertemu berbagai jenis orang, ternyata orang-orang sempurna itu memiliki kecacatan dan sejumlah kesalahan yang berdampak pada diri saya. Saya belum betul-betul bisa menerima bahwa mereka juga manusia yang tidak sempurna. Mereka masih belajar dan akan terus belajar. Mereka sangat bisa melakukan kesalahan.
Saya pikir ada benarnya bila kita perlu mencintai kekurangan seseorang, baik itu orang lain maupun diri sendiri. Kasih adalah suatu modal besar untuk mencapai ketenangan dan kedamaian. Dengan kasih, kita bisa memaafkan, menerima, dan mencintai ketidaksempurnaan yang niscaya adanya. Kasih mudah untuk diucapkan; ia terkesan sederhana. Namun kenyataannya, manusia perlu berlatih banyak untuk bisa mengasihi. Konsep kasih adalah universal, semua agama mengajarkan kasih.
Teruslah belajar, teruslah mengasihi.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri