Posts

Minggu Paskah 2019

Kita takkan pernah tahu seberapa bermakna kehadiran kita terhadap kehidupan orang lain. Tulisan ini aku persembahkan kepada seorang teman yang potongan hidupnya pernah kutuliskan dalam tulisan lama. Kemarin Jumat Agung, besok Minggu Paskah. Hari ini aku di rumah saja, berbeda dengan tahun lalu. Pada hari Jumat Agung tahun lalu, aku datang ke sebuah tempat yang kukunjungi setiap Jumat malam. Malam itu, aku tidak ditemani teman-temanku. Aku datang sendirian. Selesai acara, aku memberanikan diri untuk mengobrol lebih dalam dengan Mas Bram. Ya, sebelumnya, aku pernah menceritakan diriku dan meminta saran kepada Mas Bram dan beberapa orang yang waktu itu ikut mendengarku. Namun, malam itu, Mas Bram mengarahkanku untuk mengobrol dengan Romo Totok. Romo Totok pernah mempelajari hipnoterapi dan sepertinya beliau bisa memberiku arahan dengan lebih baik. Di tepi ruangan, aku mengobrol dengan Romo Totok. Aku menceritakan kondisiku dan pemikiranku. Saat itu, ada satu orang lagi yang iku...

Sepotong Tempe di Atas Nasi

Aku lupa rasanya sembuh Obat-obatan selalu mengingatkanku bahwa aku sakit Terkadang aku merasa sudah baik-baik saja Nyatanya tidak Apa perbedaan baik-baik saja dengan tidak baik-baik saja? Aku menyakiti seseorang lagi hari ini Dua orang, jika ditambah dengan diriku sendiri Apakah perasaan ini sedih, gusar, gulana Apakah aku tengah memberi makan emosi negatifku Kalau aku melakukan itu, apakah artinya aku tidak sadar? Aku sadar Aku sadar penuh Aku bisa mengendalikannya, tetapi, untuk apa? Aku kehilangan alasan untuk tidak melakukannya Mungkin nilai-nilaiku yang telah habis dilahapnya Akal sehatku yang telah bersih disisihkan Yang tidak menangis belum tentu lebih baik Kita sekarat setiap hari Apakah aku bisa kembali, atau justru pergi

Swadiagnosis

Kurasa ini bukan lagi Soal efek samping boti Yang kuminum setiap hari Kurasa ini bukan keracunan Tablet dan kapsul yang kutelan Setiap pagi dan malam Melainkan peringatan alami Psikosomatis yang menggigit Napasku sering hampir habis Berbunyi ketika udara ditarik Ia mulai merambat ke siang hari Bergantian dengan kepalaku yang melayang Juga dengan tubuhku yang melemas Lalu diikuti pandangan yang mengabur Bukan sekali kuingin akhiri Menelan 20 butir dalam sekali Atau lebih Takaran untuk pergi, belum kuketahui Atau memperdalam sayat Di bagian yang tepat Atau melompat Tanpa rencana mendarat "Itu harusnya tidak ada. Sudah ada obat antinya." Tawaku tanggung jawabku Tangisku urusanku Orang lain tetaplah orang lain Aku sendiri Siapa yang mengerti? Percuma

Untuk Seseorang yang Mungkin Tidak Akan Membaca Ini

Aku sedang ingin meluapkan emosiku. Aku butuh pelampiasan, dan kali ini aku memutuskan ingin melampiaskan kepadamu yang telah meninggalkanku, baik secara raga maupun perasaan. Mungkin kamu tidak akan membaca ini. Aku tidak peduli. Tulisan ini pun tidak akan mengubah apapun, tidak hidupku maupun hidupmu. Aku tidak ingin merusak hubungan kita yang sudah retak, tapi aku sangat ingin melampiaskannya karena aku tidak jadi melakukannya ketika kita masih bisa bertemu. Ah, aku jadi ingat. Seseorang juga pernah melakukan ini kepadaku. Seseorang yang kutinggalkan karena aku memutuskan ingin bersamamu. Seseorang yang terus menungguku dan kini aku memutuskan dengannya karena berbagai alasan. Kembali kepadamu. Yang tiba-tiba membuatku terdiam. Kehabisan kata-kata. Belum sempat aku luapkan emosiku kepadamu, aku sudah kehabisan ide untuk mengataimu. Nyatanya aku tidak sebenci itu kepadamu. Entahlah. Perasaan bercampur aduk. Kamu adalah orang yang menyebalkan. Datang, berusaha membuatku memilih...

Pulang ke Rahim Ibunya

Beberapa potong lirik dari lagu Jason Ranti, "Pulang ke Rahim Ibunya": Lisa berhenti hidup, tapi tak juga mati Ia merasa redup semua mimpinya mati Lisa pergi ke gunung, ia merasa murung Ia pergi ke Tuhan, ia tak kenal Tuhan Ia buat rencana pulang ke rahim ibunya // Lisa ingin sekali belajar filosofi Sedikit ilmu hidup, sedikit teologi Lisa matanya buram mungkin hatinya suram Ia mulai bertanya untuk apa di sini Ia buat rencana pulang ke rahim ibunya // Lisa tinggal di kamar, ia menolak sadar Ia belajar kini tiada yang pasti Lisa berjalan limbung mungkin hatinya bingung Ia terus meracau dengan suara parau Ia buat rencana pulang ke rahim ibunya Lisa buat rencana pulang ke rahim ibunya //

Cerita Merah

Yang membuatku penasaran Garis merah Tetesan merah Yang kuinginkan Meski tidak tahu langkah selanjutnya Aliran deras Dari garis sepanjang ruas jari Mengilap Berkilau Membawa ke dimensi yang berbeda Di mana racau menjadi biasa Dan gelap adalah terang Dan merah adalah putih Bisakah menghentikan

Melamun

I'll take you home Just wanna take you home I'll take you home Just wanna take you home Hujan di akhir Februari Turun menderas, memecah jalanan sunyi Kelabu langit kita amati Dari kursi yang terpisah sendiri-sendiri Tenggelam ke dalam lamunan sebuah perjalanan Tenggelam ke dalam lamunan sebuah perjalanan Ruang dingin ini terasa berbeda Kita menunggu reda Ada perasaan yang tertinggal di dalam bayangan

Tapis

"Sama seperti menulis, mungkin isi pikiranmu sulit kaukeluarkan karena kau terlalu banyak berpikir dan menganalisis." Pikiran dan analisis yang menggunakan nalar adalah tapis. Setiap orang butuh penapis supaya tetap waras, atau kalau katanya, beradaptasi dengan manusia lain di sekelilingnya. Penapis harus tetap ada, baik terhadap arus ke dalam maupun arus keluar. Ini adalah bentuk prinsip reciprocity yang tidak pada tempatnya alias saya cuma ngomong ngawur biar seolah keren. Penapis adalah alat yang menjaga superego seorang manusia. Di sisi lain, penapis adalah rajutan benang yang dipilin dari dalam dan luar diri seseorang. Warna tapis dan tingkat kerapatan lubang-lubangnya ditentukan oleh kondisi internal dan eksternal seseorang. Lalu ketika sakit, tapis itu seperti meronta-ronta karena terkoyak. Yang terbendung meminta keluar. Di sela-sela tapis yang tersisa, alam bawah sadarku menahan diriku untuk melontarkan kata-kata yang tak wajar atau tindakan yang tak lazim, s...

Satelit dan Antena

Kamu adalah satelit dan aku antena Kamu telah dan akan terus mengorbit dunia Menghimpun setiap ilmu setiap hari Membagi kepadaku yang memandangmu dari permukaan bumi Kamu adalah satelit dan aku antena Dengan amat terkontrol, kau jalankan fungsimu Beri manfaat buat mereka yang tak kemana-mana Termasuk aku, yang dalam diam mengikuti jejakmu Kamu adalah satelit dan aku antena Kita dicipta bersama meski terpisah jarak Dan aku percaya bahwa cinta ini selamanya Sebelum sadar pergeseran orbit adalah mutlak (Rancabungur, 2019)

Dèjá Vu (2)

Aku pernah merasa seperti  deja vu , nyatanya perjalanan setahun setelah perasaan itu tidak sama dengan perjalanan setahun dari fenomena yang pertama. Ada yang berubah. Ada yang berbeda. Tentu saja, orangnya berbeda, masanya berbeda, pengetahuan -nya juga berbeda. Tuan Hitam, terima kasih atas satu tahunnya yang luar biasa. Aku masih berusaha agar tidak terus-terusan merasa sedih jika mendengar namamu dan melihat wajahmu. Kali ini, aku merasakannya kembali, tetapi untuk perkara yang berbeda. Bukan soal asmara, melainkan kondisi diri. Setelah jatuh-bangun dalam hampir dua tahun terakhir, saat ini aku berada dalam keadaan yang cukup baik, kurasa. Akan tetapi, dalam keadaan ini, aku justru tidak benar-benar baik-baik saja karena aku melakukan ketidakwajaran--sebagaimana yang pernah aku lakukan dulu ketika kondisiku masih baik-baik saja. Aku merasa seperti mengulang. Aku merasa bahwa dengan ini, kondisiku akan turun lagi, tetapi aku tidak yakin bahwa ceritanya akan sama. Pasti aka...