Posts

Bumi Sehabis Hujan

Image
Tanah basah dan dedaunan yang tergeletak di atasnya, bersua dalam keteraturan alam, menghasilkan aroma cinta-Nya pada semesta. Berkas-berkas foton dari matahari bertumbukan, mencari celah untuk ditembus dan dihamparkan cahayanya. Menimbulkan bayangan yang dicintai atas keteduhannya. Menimbulkan terang yang dicintai atas warnanya. Angin berembus semilir, membisikkan kasih-Nya kepada siapa saja yang merasakan sentuhannya. Namun Ia berkata lain, keteraturan adalah ketidakteraturan yang teratur. Manusia timbul dan berkembang, dengan segala alasannya: cinta, kemajuan peradaban, inovasi, ego, bahagia, menghindari pedih, bumi, semesta, masa depan, generasi penerus, nama, sejarah, semua! Meningkatkan laju kenaikan entropi semesta. Ketidakseimbangan yang teratur lajunya. Aku manusia, malu ada di dunia. Melakukan kesenangan yang kata mereka tidak ada artinya. Kau tak mengerti, sebagaimana aku tak memahamimu... Melangkah bersama bukan jaminan saling paham, apalagi tidak bersama-sama....

Now and Tomorrow

...and finally, I come to this state Being a pervert jerk whom they left Back to the loneliness If there was no you Please stay aside, I beg Give me a light kiss under the starry night Hug me when I close my eyes and smile These feelings were lingered on me You are the only one whom I look for To be loved, for now Tomorrow never knows

Kemarin Sore

Senja segera tiba, namun jingga tak kunjung datang. Kami bertiga duduk di sana, menghadap ke arah barat namun dengan tatapan yang kosong. Lembah yang semula membatasi kami dengan sungai, kini telah ditimbun menjadi bakal jalanan. Tempat itu tak lama lagi akan menjadi terlalu terekspos untuk dijadikan tempat bercengkrama dan tinggal hanya akan menyisakan kenangan. Sebatang rokok telah habis ia isap, berkat lelakinya yang pergi bersama perempuan lain. Air mata telah habis kami tumpahkan bersama. Kami telah habis dengan masalah masing-masing. Kecuali perempuan yang duduk di tengah, matanya kering dari air mata. Namun bila kausingkap lengan bajunya, akan kaulihat luka di tangannya sebab depresi di benaknya. Bicara soal depresi; bicara kesehatan mental. Apakah kita pernah betul-betul sehat? Senja berangsur gelap, satu persatu serangga bermunculan dari balik semak-semak. Kami meninggalkan tempat itu, lalu aku berpindah ke suatu tempat dimana perhelatan pembukaan pameran sedang diselen...

Untuk Kota yang Kutinggalkan

Purnama telah lewat dua malam Satu bulan berlalu lagi Aku terhenyak dalam diam Menikmati rindu yang  kian lama kian menjadi-jadi Kepada setiap masa yang telah lalu Kepada cinta yang telah jauh Kenangan yang memupus Jatuh di atas kampus...      Kota yang kutinggalkan      Menyisakan serpihan ingatan           tak tersisa. Digantikan Yogyakarta (Sleman, 2018)

Sebuah Tulisan Bodoh

Aku memang payah, sering tenggelam dalam gumaman kebingunganku sendiri. Lalu, kamu akan mendengarkanku dengan pasrah atau bahkan sebal apabila aku benar-benar kelewatan dalam hal keragu-raguan. Aku yang terbiasa hidup dalam rencana untuk suatu target pun terpelatuk atas ucapanmu, bahwa aku harus berubah. Pada waktunya, aku harus bisa menentukan keputusan dengan cepat. Aku suka dengan caramu mendengarkanku lalu menyampaikan pendapatmu. Meskipun kamu memang idealis--bahkan idealitasmu sering bertentangan dengan idealitasku di masa lalu--entah kenapa saat ini aku ingin mendengarkanmu. Hei, kupikir aku sudah terlalu jatuh dalam perasaan ini kepadamu. Aku terbiasa bertemu denganmu, sehingga saat kita tak bertemu, rasanya aku rindu. Ah, apakah hanya aku yang merasa sedemikian rindunya? Satu lagi hal yang masih sedang kuusahakan agar dapat kukendalikan adalah rasa cemburuku. Menurutku, sebuah kebodohan ketika aku merasa cemburu pada perempuan lain sedangkan kamu masih merelakan banyak se...

Meluap

Seperti air di dalam ceret yang dididihkan lalu jadi uap air mendesak untuk keluar cintaku meluap-luap di dalam kepalaku! Menjerit dan meminta untuk dituang Tapi aku panas, sayang Kalau kupaksa akan melepuhkanmu

Bertasbih

Teater, motor, buku, sains Kampus, jalan raya, lampu merah Taman Budaya dan Kilometer Nol Pantai, tebing, bukit, dan ruang Malioboro pukul tiga pagi Sebutkan lagi semua yang kauingat tentang aku! Yang kausebut itu Suka kuhitung satu-persatu Untuk menggantikan hangat pelukmu Kala aku rindu Saat ini, aku sedang menghitungnya

Cerita kepada Mirat

Di atas meja ulin bundar berwarna cokelat kehitaman, lengan Warni terlipat manis. Sebuah lampu remang memendarkan cahaya kuning tepat di atas pusat jari-jari lingkaran meja itu. Sekelebat memori lewat, bahwa di meja itu, ia telah melewati banyak sekali perbincangan, perdebatan, diskusi, silat lidah, adu mulut, adu argumen, dan segala adu-adu lainnya yang bermakna serupa. Tak lain, lawannya tentu adalah Kaku. Bagian dari dirinya juga, tetapi memiliki sifat dan pemikiran yang amat bertentangan dengan Warni. Setelah perkelahian yang cukup lama kemudian diikuti perang dingin di antara Warni dan Kaku, akhirnya Kaku menyerah juga. Ia angkat tangan, memutuskan untuk duduk dan beristirahat. Untuk mengantisipasi sadarnya orang-orang di sekitarnya tentang menghilangnya Kaku, Warni telah menciptakan topeng berwajah Kaku. Sesuatu yang amat mudah baginya; ia sudah biasa berkilah. Malam itu, Warni duduk sendiri. Tidak ada Kaku. Ia menunggu seseorang: Mirat. Bagi Warni, Mirat adalah makhluk mist...

Tanpa Judul

/1/ Biar kuendapkan segala keruh di kepalaku Biar air mukaku tampak jernih Biar kunyalakan kobar kemarahan di dadaku Supaya membakar dan memerih. /2/ Kelakar kobar rupanya tidak selucu itu Hangus merambati tubuhku yang melayu Perlahan jadi abu, terbang jadi debu Mati aku. Padahal aku ingin meleleh, sayang Supaya diri ini tak lagi bisa digerayang Lalu aku akan melebur dalam genang Yang berikutnya akan kaukenang. /3/ Andai aku bisa, sudah kucekik keparat bernama waktu.

Sakau

Semua terjadi begitu cepat. Semakin aku bersamamu, semakin aku candu untuk rindu kepadamu. Yogyakarta, dengan segala pesona serta kehidupannya yang tiada mati walau semalam bahkan sepagi apapun, kukira telah menyalakan malam-malam yang kita lewati bersama. Aku menikmati momen ketika melintasi jalanan bersamamu, dengan angin dingin yang mendorong kita ke belakang, dengan warna langit yang selalu berubah-ubah, dengan suara deru motor yang meminta untuk diurus, dengan percakapan kita, dengan genggaman tanganmu, dengan segala hal tentangmu atau kita. "Kamu akan sakau," katamu. Sepakat, kubilang dalam hati. Candu memang memicu sakau saat tak dipenuhi. Entah bagaimana, kamu berhasil menghancurkan ritme yang kubangun selama ini demi pertahananku. Kacaunya lagi, kamu membuatku berpikir jauh sejak kita berbincang soal masa depan. Ah, sebetulnya aku hanya ingin meracau tentang sakau akibat candu akan rindu kepadamu.