Sebuah Tulisan Bodoh

Aku memang payah, sering tenggelam dalam gumaman kebingunganku sendiri. Lalu, kamu akan mendengarkanku dengan pasrah atau bahkan sebal apabila aku benar-benar kelewatan dalam hal keragu-raguan. Aku yang terbiasa hidup dalam rencana untuk suatu target pun terpelatuk atas ucapanmu, bahwa aku harus berubah. Pada waktunya, aku harus bisa menentukan keputusan dengan cepat.
Aku suka dengan caramu mendengarkanku lalu menyampaikan pendapatmu. Meskipun kamu memang idealis--bahkan idealitasmu sering bertentangan dengan idealitasku di masa lalu--entah kenapa saat ini aku ingin mendengarkanmu. Hei, kupikir aku sudah terlalu jatuh dalam perasaan ini kepadamu. Aku terbiasa bertemu denganmu, sehingga saat kita tak bertemu, rasanya aku rindu. Ah, apakah hanya aku yang merasa sedemikian rindunya?
Satu lagi hal yang masih sedang kuusahakan agar dapat kukendalikan adalah rasa cemburuku. Menurutku, sebuah kebodohan ketika aku merasa cemburu pada perempuan lain sedangkan kamu masih merelakan banyak sekali waktu, pikiran, dan tenaga untukku. Seolah-olah aku kurang percaya padamu. Percayalah, sebetulnya aku memang hanya takut kehilanganmu. Dan aku pun percaya bahwa aku sedang bodoh ketika cemburu; kembali kutekankan bahwa aku sedang berusaha mengendalikannya.

Ruang Busuk, 02.00 WIB.
Ditulis dengan perasaan rindu campur cemburu; aku ingin menghubungimu tetapi takut mengganggumu.
Selamat tidur.
Semoga mimpi indah dan bangun dalam keadaan terbaik.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri