Posts

Sebuah Tulisan Bodoh

Aku memang payah, sering tenggelam dalam gumaman kebingunganku sendiri. Lalu, kamu akan mendengarkanku dengan pasrah atau bahkan sebal apabila aku benar-benar kelewatan dalam hal keragu-raguan. Aku yang terbiasa hidup dalam rencana untuk suatu target pun terpelatuk atas ucapanmu, bahwa aku harus berubah. Pada waktunya, aku harus bisa menentukan keputusan dengan cepat. Aku suka dengan caramu mendengarkanku lalu menyampaikan pendapatmu. Meskipun kamu memang idealis--bahkan idealitasmu sering bertentangan dengan idealitasku di masa lalu--entah kenapa saat ini aku ingin mendengarkanmu. Hei, kupikir aku sudah terlalu jatuh dalam perasaan ini kepadamu. Aku terbiasa bertemu denganmu, sehingga saat kita tak bertemu, rasanya aku rindu. Ah, apakah hanya aku yang merasa sedemikian rindunya? Satu lagi hal yang masih sedang kuusahakan agar dapat kukendalikan adalah rasa cemburuku. Menurutku, sebuah kebodohan ketika aku merasa cemburu pada perempuan lain sedangkan kamu masih merelakan banyak se...

Meluap

Seperti air di dalam ceret yang dididihkan lalu jadi uap air mendesak untuk keluar cintaku meluap-luap di dalam kepalaku! Menjerit dan meminta untuk dituang Tapi aku panas, sayang Kalau kupaksa akan melepuhkanmu

Bertasbih

Teater, motor, buku, sains Kampus, jalan raya, lampu merah Taman Budaya dan Kilometer Nol Pantai, tebing, bukit, dan ruang Malioboro pukul tiga pagi Sebutkan lagi semua yang kauingat tentang aku! Yang kausebut itu Suka kuhitung satu-persatu Untuk menggantikan hangat pelukmu Kala aku rindu Saat ini, aku sedang menghitungnya

Cerita kepada Mirat

Di atas meja ulin bundar berwarna cokelat kehitaman, lengan Warni terlipat manis. Sebuah lampu remang memendarkan cahaya kuning tepat di atas pusat jari-jari lingkaran meja itu. Sekelebat memori lewat, bahwa di meja itu, ia telah melewati banyak sekali perbincangan, perdebatan, diskusi, silat lidah, adu mulut, adu argumen, dan segala adu-adu lainnya yang bermakna serupa. Tak lain, lawannya tentu adalah Kaku. Bagian dari dirinya juga, tetapi memiliki sifat dan pemikiran yang amat bertentangan dengan Warni. Setelah perkelahian yang cukup lama kemudian diikuti perang dingin di antara Warni dan Kaku, akhirnya Kaku menyerah juga. Ia angkat tangan, memutuskan untuk duduk dan beristirahat. Untuk mengantisipasi sadarnya orang-orang di sekitarnya tentang menghilangnya Kaku, Warni telah menciptakan topeng berwajah Kaku. Sesuatu yang amat mudah baginya; ia sudah biasa berkilah. Malam itu, Warni duduk sendiri. Tidak ada Kaku. Ia menunggu seseorang: Mirat. Bagi Warni, Mirat adalah makhluk mist...

Tanpa Judul

/1/ Biar kuendapkan segala keruh di kepalaku Biar air mukaku tampak jernih Biar kunyalakan kobar kemarahan di dadaku Supaya membakar dan memerih. /2/ Kelakar kobar rupanya tidak selucu itu Hangus merambati tubuhku yang melayu Perlahan jadi abu, terbang jadi debu Mati aku. Padahal aku ingin meleleh, sayang Supaya diri ini tak lagi bisa digerayang Lalu aku akan melebur dalam genang Yang berikutnya akan kaukenang. /3/ Andai aku bisa, sudah kucekik keparat bernama waktu.

Sakau

Semua terjadi begitu cepat. Semakin aku bersamamu, semakin aku candu untuk rindu kepadamu. Yogyakarta, dengan segala pesona serta kehidupannya yang tiada mati walau semalam bahkan sepagi apapun, kukira telah menyalakan malam-malam yang kita lewati bersama. Aku menikmati momen ketika melintasi jalanan bersamamu, dengan angin dingin yang mendorong kita ke belakang, dengan warna langit yang selalu berubah-ubah, dengan suara deru motor yang meminta untuk diurus, dengan percakapan kita, dengan genggaman tanganmu, dengan segala hal tentangmu atau kita. "Kamu akan sakau," katamu. Sepakat, kubilang dalam hati. Candu memang memicu sakau saat tak dipenuhi. Entah bagaimana, kamu berhasil menghancurkan ritme yang kubangun selama ini demi pertahananku. Kacaunya lagi, kamu membuatku berpikir jauh sejak kita berbincang soal masa depan. Ah, sebetulnya aku hanya ingin meracau tentang sakau akibat candu akan rindu kepadamu.

Aku Ingin Berpuisi Malam Ini

Bulan, temani aku Menikmati gerimis malam ini Temaramkan gelap yang melanda Sampai fajar tiba Dalam renung, ingatan mulai merayap Menggerayang otak yang telah lama abai Pada kalbu yang perlahan sirna Digantikan nafsu kebebasan Masa bodoh, kubilang Akalku tuba, perlahan buta Hatiku kina, menjadi hina Biar ingatanku diperkosa lupa Seperti air terdifusi tinta Biar dunia aku sapa Dengan nista, cinta, dan dusta.

Rindu dan Kamu

Barangkali kata 'rindu' telah tak lagi sama di dalam persepsiku sejak kaumemasukkan namamu di dalamnya. Bisa kukatakan memang baru sebentar aku semakin mengenal kehidupanmu, setelah sebelumnya aku benar-benar menganggapmu sekadar sobat tanpa rasa yang lebih. Rasanya aku belum bisa memikirkan, merencanakan, atau bahkan sesederhana membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Rupanya aku memang tak seperti dulu lagi; saat ini aku menikmati percumbuanku dengan arus kehidupan transisional--terkadang turbulen, terkadang laminer. Keadaannya berubah-ubah terhadap waktu. Bila kuanalogikan, gradien peningkatan entropi sistem diantara kita mulai menanjak makin terjal semenjak arah pembicaraan kita mulai berubah. Tetapi aku menikmatinya, meski aku tak tahu bagaimana perasaanmu. Kemudian aku merasa tidak beres ketika aku membiarkan orang lain selain dirimu memasuki duniaku sepertimu, maka aku pun memutuskan untuk tidak membuka pintu lagi kepada yang lain. Apakah aku berlebihan deng...

Asumsi

Barangkali Tuhan memang begitu    Hobi beretorika dan membuat teka-teki    Tanpa menyediakan jawabannya    Sengaja supaya hamba terus mencari-Nya    Dan hamba-hamba lain juga Tuhan,    kepada siapa aku harus percaya? Yogyakarta 13.10/17

Lompat

Setelah membayangkan bagaimana jika aku bunuh diri--kira-kira metode apa akan membuat kita merasakan apa? Sebab kalau bunuh diri tak berhasil, justru kesakitan atau cacat yang tak terperi yang bakal kita rasakan. Gantung diri? Oh, sepertinya saat leher ini tercekik dan mulai kehabisan napas, rasanya akan sangat menyiksa. Menelan banyak obat? Hmm, bagaimana kalau obatnya kurang atau ramuannya salah, sehingga rasanya justru sangat menyiksa? Memotong nadi? Membayangkan menyayat sedikit saja ngilu, bagaimana aku sanggup memotong pergelangan tanganku. (*) Kemudian ingatanku merambah kepada ucapannya: Kenapa takut mati? Jawabku: Tidak tahu. Karena... tidak tahu? Karena kita tidak tahu bagaimana kematian itu? Ia pun menjawab lagi: Ya, seperti itulah! Kalau kau tak takut mati, kenapa kau tidak lompat ke jalan saja sekarang juga? ... ...lompat. (*) Aku membayangkan diriku berada di gedung tinggi, menatap riuhnya jalanan kota. Angin berdesir kencang dan udara...