Rindu dan Kamu

Barangkali kata 'rindu' telah tak lagi sama di dalam persepsiku sejak kaumemasukkan namamu di dalamnya. Bisa kukatakan memang baru sebentar aku semakin mengenal kehidupanmu, setelah sebelumnya aku benar-benar menganggapmu sekadar sobat tanpa rasa yang lebih.
Rasanya aku belum bisa memikirkan, merencanakan, atau bahkan sesederhana membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Rupanya aku memang tak seperti dulu lagi; saat ini aku menikmati percumbuanku dengan arus kehidupan transisional--terkadang turbulen, terkadang laminer. Keadaannya berubah-ubah terhadap waktu.
Bila kuanalogikan, gradien peningkatan entropi sistem diantara kita mulai menanjak makin terjal semenjak arah pembicaraan kita mulai berubah. Tetapi aku menikmatinya, meski aku tak tahu bagaimana perasaanmu. Kemudian aku merasa tidak beres ketika aku membiarkan orang lain selain dirimu memasuki duniaku sepertimu, maka aku pun memutuskan untuk tidak membuka pintu lagi kepada yang lain. Apakah aku berlebihan dengan telah memilihmu?

Dengan senyum,
Yang rindu kepada Rindu (akronim).

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri