Di atas meja ulin bundar berwarna cokelat kehitaman, lengan Warni terlipat manis. Sebuah lampu remang memendarkan cahaya kuning tepat di atas pusat jari-jari lingkaran meja itu. Sekelebat memori lewat, bahwa di meja itu, ia telah melewati banyak sekali perbincangan, perdebatan, diskusi, silat lidah, adu mulut, adu argumen, dan segala adu-adu lainnya yang bermakna serupa. Tak lain, lawannya tentu adalah Kaku. Bagian dari dirinya juga, tetapi memiliki sifat dan pemikiran yang amat bertentangan dengan Warni. Setelah perkelahian yang cukup lama kemudian diikuti perang dingin di antara Warni dan Kaku, akhirnya Kaku menyerah juga. Ia angkat tangan, memutuskan untuk duduk dan beristirahat. Untuk mengantisipasi sadarnya orang-orang di sekitarnya tentang menghilangnya Kaku, Warni telah menciptakan topeng berwajah Kaku. Sesuatu yang amat mudah baginya; ia sudah biasa berkilah. Malam itu, Warni duduk sendiri. Tidak ada Kaku. Ia menunggu seseorang: Mirat. Bagi Warni, Mirat adalah makhluk mist...