Posts

Sakau

Semua terjadi begitu cepat. Semakin aku bersamamu, semakin aku candu untuk rindu kepadamu. Yogyakarta, dengan segala pesona serta kehidupannya yang tiada mati walau semalam bahkan sepagi apapun, kukira telah menyalakan malam-malam yang kita lewati bersama. Aku menikmati momen ketika melintasi jalanan bersamamu, dengan angin dingin yang mendorong kita ke belakang, dengan warna langit yang selalu berubah-ubah, dengan suara deru motor yang meminta untuk diurus, dengan percakapan kita, dengan genggaman tanganmu, dengan segala hal tentangmu atau kita. "Kamu akan sakau," katamu. Sepakat, kubilang dalam hati. Candu memang memicu sakau saat tak dipenuhi. Entah bagaimana, kamu berhasil menghancurkan ritme yang kubangun selama ini demi pertahananku. Kacaunya lagi, kamu membuatku berpikir jauh sejak kita berbincang soal masa depan. Ah, sebetulnya aku hanya ingin meracau tentang sakau akibat candu akan rindu kepadamu.

Aku Ingin Berpuisi Malam Ini

Bulan, temani aku Menikmati gerimis malam ini Temaramkan gelap yang melanda Sampai fajar tiba Dalam renung, ingatan mulai merayap Menggerayang otak yang telah lama abai Pada kalbu yang perlahan sirna Digantikan nafsu kebebasan Masa bodoh, kubilang Akalku tuba, perlahan buta Hatiku kina, menjadi hina Biar ingatanku diperkosa lupa Seperti air terdifusi tinta Biar dunia aku sapa Dengan nista, cinta, dan dusta.

Rindu dan Kamu

Barangkali kata 'rindu' telah tak lagi sama di dalam persepsiku sejak kaumemasukkan namamu di dalamnya. Bisa kukatakan memang baru sebentar aku semakin mengenal kehidupanmu, setelah sebelumnya aku benar-benar menganggapmu sekadar sobat tanpa rasa yang lebih. Rasanya aku belum bisa memikirkan, merencanakan, atau bahkan sesederhana membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Rupanya aku memang tak seperti dulu lagi; saat ini aku menikmati percumbuanku dengan arus kehidupan transisional--terkadang turbulen, terkadang laminer. Keadaannya berubah-ubah terhadap waktu. Bila kuanalogikan, gradien peningkatan entropi sistem diantara kita mulai menanjak makin terjal semenjak arah pembicaraan kita mulai berubah. Tetapi aku menikmatinya, meski aku tak tahu bagaimana perasaanmu. Kemudian aku merasa tidak beres ketika aku membiarkan orang lain selain dirimu memasuki duniaku sepertimu, maka aku pun memutuskan untuk tidak membuka pintu lagi kepada yang lain. Apakah aku berlebihan deng...

Asumsi

Barangkali Tuhan memang begitu    Hobi beretorika dan membuat teka-teki    Tanpa menyediakan jawabannya    Sengaja supaya hamba terus mencari-Nya    Dan hamba-hamba lain juga Tuhan,    kepada siapa aku harus percaya? Yogyakarta 13.10/17

Lompat

Setelah membayangkan bagaimana jika aku bunuh diri--kira-kira metode apa akan membuat kita merasakan apa? Sebab kalau bunuh diri tak berhasil, justru kesakitan atau cacat yang tak terperi yang bakal kita rasakan. Gantung diri? Oh, sepertinya saat leher ini tercekik dan mulai kehabisan napas, rasanya akan sangat menyiksa. Menelan banyak obat? Hmm, bagaimana kalau obatnya kurang atau ramuannya salah, sehingga rasanya justru sangat menyiksa? Memotong nadi? Membayangkan menyayat sedikit saja ngilu, bagaimana aku sanggup memotong pergelangan tanganku. (*) Kemudian ingatanku merambah kepada ucapannya: Kenapa takut mati? Jawabku: Tidak tahu. Karena... tidak tahu? Karena kita tidak tahu bagaimana kematian itu? Ia pun menjawab lagi: Ya, seperti itulah! Kalau kau tak takut mati, kenapa kau tidak lompat ke jalan saja sekarang juga? ... ...lompat. (*) Aku membayangkan diriku berada di gedung tinggi, menatap riuhnya jalanan kota. Angin berdesir kencang dan udara...

Ceracau Dini Hari

Sudah sebegini menyedihkannya-kah diriku? Sampai-sampai mengemis penghargaan. Maksudku, salahkah jika aku berharap ada orang yang amat menunggu kehadiranku, senang dengan keberadaanku, dan merasa terbantu jika ada aku di situ? Masih adakah aku di sela-sela hati kalian? Tahukah bahwa hatiku benar-benar terketuk ketika ada yang berkata bahwa ia tak sabar bertemu denganku; sebab ia menungguku karena kalimat-kalimatku terngiang di kepalanya? Tahukah bahwa aku amat tersentuh setiap kali membaca surat-surat yang merindukan keberadaanku waktu itu? Masih adakah yang menganggapku berharga? Saat aku sendiri pun tak dapat menghargai diriku sendiri. Karena pertikaian internal yang tak kunjung usai, membuatku lelah lalu abai dan terkulai. Apakah ini memang dasarnya manusia? Ingin memberi sesuatu pada yang lain demi memenuhi ego pribadi. Kontribusi. Sumbangsih. Jasa. Bantuan. Apapun tetek bengek lainnya yang sebangsanya. Benarkah memang demikian? Jika iya, menyedihkankah ini ata...

Siklus Air dan Manusia

/1/ Air mengalir Menjelma jadi butir Menggumpal jadi awan Turun sebagai hujan Lalu mengalir Kembali jadi butir Ke langit jadi awan Turun sebagai hujan Lagi; air mengalir Berubah jadi butir Berkumpul jadi awan Turun sebagai hujan Air masih mengalir Dan siklus tiada akhir /2/ Bibit manusia lahir Di dunia hanya melipir Beranak tinggalkan keturunan Mati di kuburan Anak yang lahir Di dunia sekadar mampir Beranak pula hasilkan keturunan Menyusul mati di kuburan Anaknya anak lahir Di dunia mampir melipir Kawin, tinggalkan keturunan Akhirnya mati di kuburan Cucunya anak telanjur lahir Lahir untuk akhir, berakhir dengan lahir /3/ Apa bedanya? Selain air tumbuhkan kehidupan Dan manusia sukanya menghabiskan air?

Sedekat Itukah Engkau, Tuhan?

Image
Masih adakah tempat untukku? Sedang aku, untuk bertanya pun telah jemu Jawaban yang tak kunjung datang Buatku menepis semua sebab bimbang. Pulang, jangan?

/Kesal/ahan, /Kekal/ahan, dan Am/arah/

/1/ Kesalahanku adalah Kesal akan kekalahanku Kemudian aku bertahan Kekal dalam kekalahanku Walau jadi lahan kewalahan /2/ Rebah Jadi marah Aku hilang arah Berdarah melawan pasrah Bernanah jadi lara Wajahmu merah merona merana Mataku biru sendu tersedu Kita putih letih bersedih Sembunyi dalam hitam padam tentram    Sandiwara kita

Aku Kering; Bawakan Air dan Akan Kutumbuhkan Bunga Untukmu

Kala aku mendengarkan lagu-lagu itu, seketika memoriku menyeruak. Tentang rumah dan keluarga yang satu lagi. Yang pernah selalu menjadi tempat untuk pulang. Tentang bagaimana kami beraktivitas bersama. Tentang kehidupan yang diajarkan. Diri ini telah berubah. Ya, perubahan memang selalu terjadi seiring berjalannya waktu. Tetapi kupikir ini bukan perubahan yang baik, dan aku tidak sanggup kembali ke idealisme yang dulunya kuyakini. Akankah aku mengulang siklus yang sama? Terjerembap dalam kegagalan diri, kemudian bertemu seseorang yang mampu menambatkan hati ini kepadanya. Setelah itu berpisah, hingga aku mundur, membentur tembok, dan tak bisa kemana-mana lagi. Satu-satunya jalan hanyalah pasrah sambil berdoa, kemudian aku kembali ke idealis yang kuanut. Apakah benar akan semudah itu? Ataukah aku memang tak bisa kembali? Sedang aku yang sekarang bukanlah lagi sama seperti dulu. Meski takdir sama menghantamku, respons diri ini belum tentu serupa. Bagaimana jika aku tak pedul...