Talents Mapping

Setelah melewati fase-fase ingin bunuh diri, menyakiti diri; saat ini aku memasuki fase berikutnya: menyabotase diri sendiri. Yay!(?) *cheering ironically*

Kata psikolog, bisa jadi seseorang menyabotase diri sendiri karena ia merasa familiar dengan situasi "tidak nyaman", sehingga ketika kondisinya sebetulnya baik-baik saja, dia memberikan "masalah baru" pada dirinya sendiri.

Bagiku, mungkin bisa saja begitu. Namun selain itu, aku juga masih merasa.. seperti menggenggam duri dalam kepalan. Satu duri dari ucapan merendahkan di masa lalu yang membuatku masih selalu mempertanyakan diri sendiri. Satu duri dari masa kini yang membuatku merasa tidak menerima situasiku. Satu duri mungkin saja, malas. Atau lelah.

Belakangan ini aku mengikuti asesmen bernama Talents Mapping. Pada dasarnya ada 34 talenta, yang menurutku lebih cocok dikatakan sebagai kepribadian/trait, yang akan dipetakan berdasarkan kuesioner. Talenta-talenta teratas berkaitan dengan perilaku yang mudah/secara natural tidak membutuhkan upaya besar untuk dilakukan, sementara talenta terbawah membutuhkan energi besar untuk melakukannya. Talenta tertinggiku adalah tanggung jawab (responsibility), sedangkan terendahnya adalah futuristik.

Bahasan soal tanggung jawab ini rasanya lumayan memakan energiku. Setelah aku lihat lagi tulisan-tulisanku di blog ini, aku jadi sadar bahwa memang motivasiku dalam hidup selama ini adalah "tanggung jawab". Beberapa kali frasa itu keluar. Harusnya tanggung jawab cukup menjadi motivasimu. Selesaikan apa yang kau mulai.

Seringkali aku membebani diriku dengan tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab itu membatasi diriku dari alternatif pilihan yang bisa kuambil. Apalagi, aku juga memiliki harmony yang kuat, alias tidak suka konflik... maka aku sering mengutamakan orang lain dibandingkan diri sendiri. Aku tidak merasa diriku seorang people pleaser. Tujuanku bukan supaya orang lain senang. Aku tidak bisa berperan se-"palsu" itu, dan aku tidak merasa membawa energi positif atau kegembiraan bagi orang lain. Aku rasa, aku lebih.. ingin membuktikan pada orang lain bahwa aku bertanggung jawab, aku bisa mengerjakan dan menyelesaikan tugasku dengan baik, dan aku tidak akan mengecewakan orang lain. Ya. Bukan membuat orang lain senang; aku ingin membuat orang lain tidak kecewa padaku.

Terkait futuristik, aku merasa dari dulu, setidaknya SMP, aku sulit sekali membayangkan diriku di masa depan. Cita-cita. Aku ingin ke mana. Melakukan apa. Di mana. Barangkali pada saat itu aku sudah terbentuk menjadi individu yang patuh, fokus pada "melayani" orang lain dan berusaha membuat mereka tidak kecewa. Sampai saat ini aku merasa sulit untuk membuat visi yang jauh.. atau bahkan yang dekat.

Namun, ada talenta lain yang aku punya dan cukup tinggi juga: context. Rupanya aku tidak pandai memproyeksi ke depan, tetapi aku cukup alami untuk melihat ke belakang. Memahami konteksku. Apa yang telah terjadi kepadaku, sekitarku, dan bagaimana aku sekarang. Mungkin ini juga menjelaskan mengapa belakangan aku suka mempelajari sejarah. Dan mungkin ini juga bisa jadi petunjuk, bahwa barangkali tidak apa-apa jika aku berjalan di atas tali yang tak jelas menuju ke mana. Aku masih bisa, seharusnya, mengapresiasi hari ini atas apa yang telah kulewati sebelumnya.

Ada hal lain yang cukup penting juga: aku punya sisi deliberative yang tinggi dan self-assurance yang rendah. Maksudnya, aku cukup kritis, detail, skeptis, dan penuh pertimbangan, tetapi kepercayaan diriku rendah sehingga seringkali aku sulit melangkah maju dan mengambil keputusan. Aku sering meletakkan orang lain dalam pertimbangan yang besar, padahal faktor itu tidak bisa kukendalikan. Idealnya, dalam membuat keputusan, harusnya aku lebih mengutamakan dampak--manfaat atau risiko yang langsung mengenaiku atau koneksiku dengan Tuhan.

*sigh*

Lelah. Lelah sekali.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri