Refleksi Manipura

If the entropy of the universe tends to increase and never goes down,

How did it come to a very low entropy at the first place?

---

What do I really want in my life?

---

Semalam, aku mengikuti kelas menulis jurnal dengan berkesadaran penuh. Ada dua buah prompt yang hasilnya cukup bermakna.

Pertama: jika kamu hanya punya 3 ruangan di dalam rumah, akan kamu isi apa ruangan tersebut? Apa yang kamu lakukan di sana? Apa dekorasinya, warnanya, baunya, suasananya?

Aku mengisi ruangan nomor 3 paling pertama: studio seni. Ruangan tersebut kuisi dengan kanvas, peralatan melukis, kertas, alat jilid, alat cutting, printer, alat tulis, dan lain-lain. Terdapat jendela besar di salah satu sisi ruangan. Di situ aku akan merasa paling kreatif dan energik.

Ruangan nomor 2 kuisi berikutnya dengan alat-alat lab. Aku menaruh rak buku, jurnal, meja kerja dengan laptop/PC di atasnya, meja mikroskop, osiloskop, rak komponen, sampel-sampel aneh, intinya apapun terkait penelitian. Di situ aku akan menulis, membaca jurnal, mengutak-atik sampel, dan sebagainya. Di situ juga ada pantry sehingga aku dapat membuat minuman enak sebagai pengiring kerja.

Terakhir, aku mengisi ruangan nomor 1 sebagai tempat istirahatku. Kuletakkan kasur yang lebar, karpet, ada kucing di sana, sebuah balkon, yoga mat, tanaman, dan sebagainya. Ruangan itu harum, rapi, membuatku rileks, dan nyaman untuk beristirahat.

Setelah selesai mengisi ketiga ruangan tersebut, kami kembali diberi beberapa prompt:

(1) Saya adalah ....

(2) Yang saya lakukan di ketiga ruangan tersebut setiap harinya adalah ....

(3) Profesi saya adalah ....

(4) Kontribusi saya terhadap lingkungan adalah ....

(5) Saya membuat perubahan dengan cara ....

(6) Saya mendapat uang dari ....

Saya mulanya bingung. Tanpa berpikir banyak, saya menulis: saya adalah dosen/peneliti yang suka membuat karya seni. Tidak harus menjadi seniman, tapi saya akan tetap terus berkarya. Saya membuat kontribusi dengan memfasilitasi "orang-orang" aneh seperti saya ruang untuk belajar, berkarya, dan mengejar keingintahuan. Saya akan membuat perubahan dengan menyadarkan kepada dunia bahwa dunia itu indah. Fenomena di sekitar kita, alam semesta, itu menakjubkan... kalau itu memang bisa dianggap sebagai kontribusi dan perubahan.

Saya akan mendapat uang dari berjualan karya, jika laku, dan mendapat funding/sponsor penelitian, jika itu memungkinkan.

Iya, saya sangat tidak percaya diri. Iya, saya sangat meragukan keinginan saya itu sampai-sampai saya tidak berani mengatakan bahwa saya menginginkannya. Namun, alam bawah sadar saya tidak berbohong, saya bergerak, berjalan, selama ini, di jalur yang sama. Semua masih searah. Sains dan seni.

Kedua: apa hal yang kamu lakukan kalau hidupmu tinggal 24 jam lagi? Maksimal 3.

Sesuai urutan:

(1) Saya akan membereskan kamar saya, barang-barang saya, dan berpakaian paling rapi.

(2) Saya akan menulis. Saya akan menuliskan perjalanan hidup saya, menulis tentang kesehatan mental: bahwa depresi adalah sesuatu yang nyata dan mematikan, dan menulis tentang perjalanan spiritual saya. Sambil menulis, saya akan mengungkapkan permintaan maaf saya kepada Tuhan bahwa perjalanan iman saya baru sampai di sini. Saya juga akan berusaha mengingat kesalahan saya dan kebaikan orang lain kepada saya, khususnya dari orang-orang yang tidak akan sempat saya datangi satu persatu. Saya ingin menuliskan permintaan maaf dan terima kasih kepada mereka di dalam surat wasiat saya.

(3) Saya akan mendatangi orang-orang yang saya sayangi dan menyayangi saya, kemudian berterima kasih atas kebaikan mereka selama ini dan memohon maaf atas kesalahan-kesalahan saya selama ini. Saya ingin memeluk mereka di tempat paling indah, mungkin di alam bebas, sampai nyawa saya dicabut.

Dari tulisan ini, saya diajak berefleksi: apa sebetulnya pola dari tulisanku? Biasanya, tulisan untuk prompt ini mencerminkan kebutuhan saat ini yang perlu dipenuhi. Saya mulanya bingung dan hanya menyadari bahwa saya perlu merapikan kamar saya. Setelahnya, fasilitator workshop tersebut menyampaikan pertanyaan retoris kepada saya: "apakah mbak membutuhkan intimacy? Apakah mbak butuh didengarkan dan dimengerti?"

Saya merasa tertohok dengan pertanyaan itu. Intimasi tercermin dari poin ketiga, sedangkan keinginan untuk didengarkan dan dimengerti tercermin dari poin nomor 2. Saya ingat betul bahwa itu memang kebutuhan yang urgensinya cukup tinggi, mengingat dalam 2 bulan terakhir, saya berkata, "Saya merasa tidak ada orang yang mengerti saya. Bahkan keluarga saya sendiri, bahkan orang terdekat saya. Mereka tidak mengalami apa yang saya alami dan saya tidak merasakan empati dari mereka. Apakah saya perlu mati untuk agar mereka mengerti? Apakah saya perlu mati untuk membuktikan bahwa depresi itu mematikan?"

Saya setelahnya bertanya kepada sang fasilitator, "Baik, saya sudah menyadari kebutuhan saya. Apa yang sebaiknya saya lakukan?"

"Nah, sebetulnya saya ingin mengajak ke arah sini. Tapi waktu kita sudah semakin terbatas... Setidaknya, menyadari adalah langkah awal. Dari situ, kita bisa mulai bertanya kepada diri kita: apa yang bisa kita lakukan untuk memenuhi kenutuhan kita? Misalnya, saya merasa dimengerti ketika ...., dan seterusnya. Buat langkah-langkah yang konkret dan bisa dilakukan, sehingga setelahnya kita dapat melakukannya."

Ketika acara sudah di penghujung, kami kembali menyadari napas bersama-sama. Di situ saya tidak dapat menahan tangis. Saya menyadari bahwa didengarkan dan dimengerti adalah bentuk pasif, yang mana artinya perlu ada pihak aktif yang mendengar dan mengerti saya. Saya tidak bisa mengontrol orang lain, siapapun. Dalam diskusi terakhir saya dengan terapis, ia menyampaikan bahwa penting untuk terhubung dengan diri sendiri dan menyadari kenapa kita merasa hampa.

Apakah saya yang harus mendengar dan mengerti diri saya sendiri?

Dalam tangis, saya mengelus kepala saya dengan lembut. Menepuknya perlahan.

---

Apakah saya mampu mendengarkan, memahami, dan menguatkan diri saya sendiri?

Bukankah ada Dia yang Maha Mengetahui segalanya, Maha Mengasihi, dan Maha Kuat?

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri