Wisata Sejarah di Jawa Tengah
Anda ingin merasakan wisata yang
berbeda? Saya menawarkan beberapa objek wisata yang saya kunjungi dalam dua
hari yang lalu di sekitar Jawa Tengah. Untuk transportasi dari satu tempat ke
tempat berikutnya, Anda bisa menggunakan jalur darat sebab tempatnya tak begitu
berjauhan. Berikut beberapa objek wisata yang dapat memperkaya wawasan Anda.
1.
Masjid Agung Demak
Bila Anda pernah mempelajari sejarah kerajaan Islam
di Indonesia, tentu Anda tahu bahwa kerajaan Demak yang didirikan oleh Raden
Fatah adalah kerajaan Islam pertama di Jawa. Meskipun sudah banyak dipugar,
masjid Demak sendiri masih menyimpan unsur-unsur yang sengaja tak dihilangkan.
Salah satunya yang paling terkenal adalah empat pilar utama penyangga masjid Demak.
Setelah melewati pintu
bledeg, pintu utama yang berukir naga dan masuk ke ruangan utama, Anda akan
menemui empat pilar yang disebut dengan saka
guru, masing-masing bertuliskan nama Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan
Bonang, dan Sunan Kalijaga. Keempat pilar tersebut adalah sumbangan dari
masing-masing wali ketika mendirikan masjid Demak. Konon, karena tidak memiliki
kayu utuh, Sunan Kalijaga membuat pilarnya dengan menyatukan sisa serutan kayu
dari ketiga pilar lainnya. Pilar tersebut disebut dengan saka tatal.
Di masjid yang terletak di alun-alun kota Demak ini,
terdapat makam Raden Fattah, Raden Pati Unus, dan Raden Trenggono; raja-raja
kerajaan Demak. Selain itu, terdapat pula makam-makam keluarga kerajaan
lainnya. Disini pun terdapat beberapa artikel dan sejarah singkat mengenai
kerajaan Demak serta wali songo. Namun, di masjid yang tiang-tiangnya berukir
motif khas Jawa ini tidak terdapat makam wali. Bila Anda ingin mengunjungi
makam Sunan Kalijaga, Anda dapat mengunjungi desa Kadilangu, Demak.
2.
Masjid Menara
Kudus
Masjid Menara Kudus adalah masjid yang didirikan
oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 M. Masjid ini terletak di desa Kauman, Kudus,
kota kretek. Arsitektur masjid ini masih sangat dipengaruhi unsur Hindu. Pagar
dan gerbangnya dibangun dengan bata, berbentuk seperti candi. Masjid Menara
Kudus terdiri dari dua bangunan utama yaitu masjid dan menara. Sayang, saya
datang dalam kondisi menara sedang dipugar.
Di samping masjid dan di belakang menara, terdapat
makam Sunan Kudus dan makam-makam lainnya. Makam-makam asli yang belum dipugar,
kebanyakan terbuat dari batu dan kayu. Tetapi, banyak makam yang sudah dipugar
dengan bahan batu marmer sehingga lebih tahan lama. Nisan makam sendiri
memiliki banyak variasi bentuk, mulai dari yang kecil, sepanjang tubuh manusia,
hingga yang terbesar adalah makam Sunan Kudus. Makam Sunan Kudus ditutup dengan
cungkup atau tirai berwarna putih,
sehingga pengunjung tidak dapat melihat bentuk makam.
Anda dapat membeli oleh-oleh di pertokoan sekitar
Masjid Menara Kudus. Salah satu makanan khas dari kota kretek ini adalah jenang
Kudus, yaitu makanan berbentuk seperti dodol dengan ukuran agak kecil dan rasa
yang bervariasi. Mulai dari rasa moka, nangka, durian, cokelat, dan sebagainya.
Soto Kudus juga kuliner yang tak boleh Anda lewatkan. Selamat mencicipi!
3.
Gunung Muria
Gunung Muria terletak di desa Colo, wilayah utara
Jawa Tengah. Makam Sunan Muria sendiri terletak di sebuah bukit dari Gunung
Muria. Untuk mencapai lokasi, bisa dengan berjalan kaki menaiki tangga sejauh +500
meter, atau dengan membayar Rp8.000,00 dan menaiki ojeg.
Gerbang masuk makam kurang lebih seperti di Kudus,
berbentuk seperti candi bercorak Hindu tetapi terbuat dari batu. Makam Sunan
Muria juga ditutupi dengan cungkup. Selain
makam Sunan Muria, terdapat beberapa makam tak bernama di sekitarnya. Di dalam
ruang makam, terdapat 2 buah jam dinding dan sebuah jam bandul. Ruang makam
dijaga oleh seorang pengurus masjid dan diawasi sebuah CCTV di bagian belakang.
Di areal masjid yang mengikuti Nahdatul Ulama (NU)
ini terdapat banyak kios yang ramai pada saat menjelang Ramadhan dan hari
lebaran. Saat menaiki maupun menuruni tangga, terdapat pula toko-toko yang
menjual oleh-oleh, makanan, tasbih, kaligrafi, foto-foto wali songo, dan
lain-lain. Selain makam Sunan Muria, Anda juga dapat berkunjung ke air terjun
Montel.
4.
Danau Rawapening,
Kampoeng Rawa Ambarawa
Rawapening, berasal dari bahasa Jawa yang artinya
“danau pusing”. Saya pun tidak tahu mengapa namanya seperti itu. Konon,
terbentuknya rawa ini berawal dari seorang anak desa yang menanamkan sebatang
tongkat dan menantang warga untuk mencoba mencabutnya. Tidak ada seorang pun
yang bisa mencabutnya, sehingga warga menyuruh anak tersebut yang mencoba
mencabutnya. Tetapi, ketika anak tersebut mencabutnya, keluarlah mata air yang
tiada henti-hentinya sehingga membentuk Danau Rawapening.
Rawapening terletak di Ambarawa. Sebenarnya objek
wisata yang satu ini bukanlah objek wisata sejarah, tetapi sengaja saya
cantumkan karena terdapat panorama alam yang tak boleh Anda lewatkan. Rawapening
baru ditetapkan sebagai objek wisata sekaligus tempat agrowisata perikanan untuk
mendukung program unggulan OVOP (One
Village One Product) sesuai instruksi Gubernur No. 518/23546 Tgl.
30/12/2011.
Disini tersedia berbagai wahana permainan seperti flying fox, perahu wisata dengan
kapasitas 10 orang, speedboat,
trampolin, istana balon, jet sky,
bebek air, becak mini, becak wisata, perahu karet, kereta mini, ATV off road, dan lain-lain. Anda juga
dapat menikmati kuliner khas Indonesia dengan produk asli Danau Rawapening
seperti nila, gurami, lele, dan lain-lain di rumah makan apung.
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah
yang harus kita isi dengan memperbanyak beribadah, tetapi tidak ada salahnya
meluangkan waktu kita untuk berkunjung ke berbagai objek wisata. Selain refreshing, kita bisa mempelajari banyak
hal dari banyak tempat. Apalagi dengan berziarah ke makam-makam wali songo yang
telah banyak berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia. Selamat
berlibur!
Comments
Post a Comment