Saat Ustadz Berkata
Ada
sebuah ceramah di masjid Bahrul Ulum yang mengingatkan saya kepada SMAN 10
Samarinda, sekolah tempat saya menimba ilmu saat ini. Kira-kira ustadz tersebut
berkata, “Agar bisa menjadi kebiasaan baik, suatu amalan harus melewati beberapa
pintu, yaitu pikiran, keyakinan, niat, akhlak, dan karakter.”
Ya, untuk
membentuk karakter siswa yang baik, seharusnya diawali dengan penjelasan
terlebih dahulu. Apalagi remaja adalah masa pencarian jati diri, dimana manusia
cenderung kritis memikirkan apa, bagaimana, dan penyebab suatu hal terjadi
ataupun diciptakan. Aturan pasti dibuat dengan sebab tertentu untuk tujuan
tertentu. Maka dari itu, sebaiknya peraturan dijelaskan dengan baik, mulai dari
sebab, penjelasan, dan tujuannya.
Penulis
amati, banyak aturan yang tidak dijelaskan dengan baik sehingga ada ketidak sinkronan
antara pembuat, penegak, dan pihak yang menjalankan aturan. Misalnya, apel pagi
di asrama. Untuk apa ada apel pagi? Mengapa apel pagi harus dilaksanakan?
Tujuan pelaksanaan apel pagi adalah memastikan jumlah siswa yang ke sekolah,
yang sakit di asrama, yang IB maupun IP; sebagai waktu penyampaian informasi
dalam perhatian apel; serta agar tidak ada siswa yang terlambat ke sekolah.
Tetapi pada kenyataannya banyak siswa yang tidak mau mengikuti apel pagi sebab
menganggap apel pagi tidak terlalu penting karena sebetulnya bisa saja
berangkat ke sekolah tanpa perlu repot-repot apel pagi, sebab masih ada apel
pengecekan di sekolah.
Selain
itu, untuk para siswa—termasuk Penulis sendiri, berpikirlah lebih luas. Aturan
dibuat demi kebaikan bersama, untuk membentuk karakter disiplin yang lebih
baik. Sebenarnya untuk mematuhi atau melanggar aturan itu pilihan, tetapi
jangan sampai “aturan ada untuk dilanggar” menjadi slogan yang mendarah daging
dalam diri kita. Dan jangan lupa, setiap pelanggaran pun ada konsekuensinya.
Bertanggung jawablah terhadap keputusan apapun yang kita ambil.
Kemudian,
sebelum mengkritisi sistem yang ada, amatilah sistem tersebut. Mengapa sistem
tidak berjalan dengan baik? Sistem tidak berjalan dengan baik karena tidak
dijalankan dengan baik. Baik dari pihak yang membuat, menjalankan, maupun
mengawasi sistem tersebut. Bagi para pembuat dan pengatur sistem, jangan menyalahgunakan sistem yang
telah dibuat. Begitu pula dengan pengawas dan pihak yang menjalaninya. Dengan
adanya kolaborasi yang baik dan saling mengerti dari segala pihak, insya allah aturan dan sistem akan
berjalan dengan baik.
Kembali
pada pada perkataan ustadz tadi. Yang saya garis bawahi disini adalah lima
pintu tadi; pikiran, keyakinan, niat, akhlak, dan karakter. Setelah pikiran dan
keyakinan pembuat, penegak, dan pihak yang menjalankan aturan ataupun sistem
sudah satu dan saling memahami, barulah niat bisa terlaksana. Baik niat untuk
membentuk karakter yang lebih baik maupun niat untuk menjadi karakter yang lebih
baik. Niat yang diawali dengan keyakinan pasti akan dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh walaupun berat. Setelah itu, pastinya semua pihak akan berusaha
mewujudkan niat itu dengan menjadikan pikiran tadi sebagai kebiasaan yang
membentuk akhlak, dan tertanam sebagai karakter.
Semoga
seluruh siswa, guru, pengasuhan, kepala asrama, maupun kepala SMAN 10 Samarinda
dapat mewujudkan visi misi sekolah kita sesuai tujuan seperti yang telah
dirumuskan ketika hendak membangun sekolah ini. Amin.
Comments
Post a Comment