Aku pernah merasa seperti deja vu , nyatanya perjalanan setahun setelah perasaan itu tidak sama dengan perjalanan setahun dari fenomena yang pertama. Ada yang berubah. Ada yang berbeda. Tentu saja, orangnya berbeda, masanya berbeda, pengetahuan -nya juga berbeda. Tuan Hitam, terima kasih atas satu tahunnya yang luar biasa. Aku masih berusaha agar tidak terus-terusan merasa sedih jika mendengar namamu dan melihat wajahmu. Kali ini, aku merasakannya kembali, tetapi untuk perkara yang berbeda. Bukan soal asmara, melainkan kondisi diri. Setelah jatuh-bangun dalam hampir dua tahun terakhir, saat ini aku berada dalam keadaan yang cukup baik, kurasa. Akan tetapi, dalam keadaan ini, aku justru tidak benar-benar baik-baik saja karena aku melakukan ketidakwajaran--sebagaimana yang pernah aku lakukan dulu ketika kondisiku masih baik-baik saja. Aku merasa seperti mengulang. Aku merasa bahwa dengan ini, kondisiku akan turun lagi, tetapi aku tidak yakin bahwa ceritanya akan sama. Pasti aka...
Dalam pertemuan terakhir kelas favorit saya semester ini, sang dosen mengawali kelas dengan membagikan paper seputar mikroskop fluoresensi beresolusi super . Paper tersebut merupakan paper pertama yang ditulis oleh Stefan W. Hell ketika mulai mengajukan ide untuk membuat mikroskop yang dapat melewati batas resolusi Abbe. Jika penasaran, silakan telusuri paper berjudul "Breaking the diffraction resolution limit by stimulated emission: stimulated-emission-depletion fluorescence microscopy" yang ditulis oleh Stefan W. Hell dan Jan Wichmann, Optics Letters Vol. 19 No. 11 tahun 1994 ( link ). Dalam paper tersebut, Hell menuliskan persamaan diferensial yang menceritakan tentang perubahan nilai populasi elektron yang berada pada tingkat energi tertentu. Oke, jangan merasa tertekan jika tidak mengerti satu frasa sebelum ini (padahal saya sendiri langsung mandeg saat membaca paper tersebut). Saya akan mencoba menceritakan apa yang saya pahami dari kisah di balik persamaan tersebu...
Yang kaulihat hanya mekar bunganya Yang tak kau tahu ialah tajam akarnya Serta bebatuan yang ia tembus. Pernahkah kamu bertanya; Apakah mawar mengharapkan dirinya berduri? Landak tidak bermimpi menjadi tajam Ia hanya hidup dengannya Demikian halnya manusia Mampukah kamu memahaminya? Tiap kita memiliki luka Namun yang kaulihat hanya mekar wajahnya
Comments
Post a Comment