Sesuatu
Sesuatu selalu datang ketika stres sedang menumpuk. Saat Sesuatu datang, aku biasanya mau tidak mau akan memfokuskan perhatianku kepadanya. Aku akan sulit beraktivitas, sehingga aku selama ini menganggap bahwa Sesuatu menggangguku.
Entah bagaimana, dalam beberapa bulan terakhir sebelum minggu ini, Sesuatu tidak datang. Aku bisa lancar mengerjakan aktivitas keseharianku, bahkan aku bisa memikirkan hal-hal yang dulu bisa kupikirkan sebelum Sesuatu mulai muncul "menggangguku". Aku bisa memikirkan pertanyaan itu lagi. Aku bisa memikirkan keingintahuanku lagi.
Mungkin, Sesuatu ingin menahanku dari keingintahuan yang meluap-luap. Keingintahuanku adalah pedang bermata dua, ia memotivasiku untuk terus hidup, tetapi juga sempat mendorongku untuk mati.
Aku adalah orang yang pertama kali sadar ketika Sesuatu datang. Aku adalah orang yang bertemu secara langsung oleh Sesuatu, aku adalah orang yang paling mengerti dengan apa yang ia lakukan, inginkan, dan apa yang aku ingin lakukan kepadanya. Aku yang bertanggung jawab atas diriku, bukan orang lain, tidak ada orang lain yang bertanggung jawab atas hubunganku dengan Sesuatu. Aku tidak perlu berharap ada orang lain yang bisa menangani Sesuatu jika aku sendiri, yang paling mengerti dirinya, belum bisa menangani Sesuatu dengan baik.
Aku tidak yakin bahwa Sesuatu telah menemaniku sepanjang hidup, karena ia baru meraga dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, aku tidak yakin bahwa Sesuatu akan pergi atau hilang. Sepertinya, aku memang ditakdirkan untuk berlatih menghadapi Sesuatu di dalam hidupku; mungkin sampai setahun, dua tahun, lima tahun ke depan, atau bahkan seumur hidup.
Mungkin ini terkesan jahat, tetapi aku senang saat mengetahui bahwa sebagian orang juga memiliki Sesuatunya masing-masing. Namun rasanya sedih karena aku tidak bisa seratus persen menceritakan dan menggambarkan Sesuatuku kepada orang lain.
Semoga Sesuatu berbahagia.
Comments
Post a Comment